Islam dan Tatakrama

[quote]Kenyataannya, masih banyak kaum Muslimin yang mengabaikan kondisi kehidupan masyarakat kita yang sejak beberapa dekade terakhir ini sedang mengalamai degradasi moral, dengan maraknya penetrasi budaya asing[/quote]

[dropcap]I[/dropcap]slam telah mensyariatkan berbagai tatakrama untuk mengatur kehidupan manusia dan tingkah laku mereka. Bila kita menyimak lebih jauh ajaran Islam, maka kita akan mendapatkan bahwa Islam merupakan agama yang sarat dengan masalah tatakrama, budi pekerti, dan peradaban yang tinggi.

Pernah Aisyah radhiyallahu anha, sang istri Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, yang juga Ummul Mukminin, ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah, dengan spontan ia menjawab, Akhlak Nabi adalah Al-Quran itu sendiri. (HR. Imam Ahmad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Dan Anas radhiyallahu anhu, seorang sahabat yang pernah berkhidmat kepada Nabi shallallaahu alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, menyatakan: Adalah Nabi shallallaahu alaihi wa sallam manusia yang paling baik akhlaknya. (Muttafaq alaih).

Kedua pernyataan tersebut amat ringkas dan sederhana, tetapi mengandung muatan makna yang sangat sarat dan dalam. Apalagi bila dikaitkan dengan penegasan Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bahwa akhlak mempunyai kedudukan penting dalam Islam. Beliau bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. (Hadits shahih, riwayat At-Tirmidzi)

Dapat dipahami dari pernyataan Nabi shallallaahu alaihi wa sallam tersebut bahwa aspek akhlak tidak boleh diabaikan, sebagaimana aspek akidah, ibadah dan lain-lainnya. Semua aspek itu harus diperhatikan oleh seorang Muslim bila ia ingin mencapai kesempurnaan dalam keimanan dan keIslamannya. Namun, dalam kenyataannya masih banyak kaum Muslimin yang mengabaikan dan tidak memberikan kondisi kehidupan masyarakat kita yang sejak beberapa dekade terakhir ini sedang mengalamai degradasi moral, dengan maraknya penetrasi budaya asing yang semangatnya jauh berbeda dengan tradisi masyarakat yang religius, padahal mayoritas masyarakat ini adalah pemeluk Islam.

Untuk mengantisipasi hal ini, perlu dilakukan upaya penyadaran, pengenalan dan pencerdasan masyarakat terhadap tuntunan yang dapat dipedomani secara praktis untuk membimbing mereka menuju kehidupan yang religius, yang membawa kepada kebahagiaan, kesejahteraan dan kedamaian di dunia maupun di akhirat. Islam menyeru kepada jalan yang ideal dalam masalah tingkah laku dan pergaulan dengan orang lain.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW merupakan teladan yang baik bagi kita. Beliau selalu mengucapkan kata-kata yang paling baik, memilih ucapan yang tepat dan lembut bagi umatnya, jauh dari ucapan-ucapan yang kotor. Beliau tidak pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas, kotor dan kasar. Ucapan yang beliau pilih sangat tepat dan tidak pernah melantur, sehingga tidak disenangi.

Seruan beliau kepada sikap lemah lembut seperti yang diwasiatkan kepada Aisyah : Bersikaplah yang lembut. Karena sikap lemah lembut tidak terdapat pada sesuatu kecuali ia membuatnya jadi indah, dan sikap lemah lembut tidak dilepas dari sesuatu kecuali ia membuatnya jadi buruk Maka kita harus memperlakukan manusia seperti kesenangan kita bila diperlukan seperti itu, agar kita bisa lebih banyak menjauhi kesalahan. Hendaklah kita membersihkan diri kita, baik dalam perkataan maupun perbuatan, agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Al Bukhari berkata di dalam sahihnya, bahwa Ammar ra pernah berkata : Tiga hal, siapa yang memadukannya berarti telah memadukan iman, yaitu berbuat adil pada dirimu sendiri, mengucapkan salam kepada orang pandai dan mengeluarkan nafkah dikala sedikit harta. Ucapan Ammar ini mengandung dasar-dasar kebaikan. Sebab berbuat adil mengharuskan seseorang melaksanakan perintah Allah secara sempurna, dan juga harus melaksanakan hak manusia. Ia tidak akan menuntut mereka apa yang bukan menjadi haknya dan tidak membebankan sesuatu di luar kemampuan mereka. Ia memberi maaf kepada orang lain dan memberi keputusan kepada mereka seperti yang ia putuskan kepada dirinya sendiri.

Untuk itu kita mesti mulai, dan meningkatkan pengetahuan kita tentang sunnah nabi kita untuk kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. (pelitaonline.com)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com