Bandara Sultan Iskandar Muda Dapat Subsidi Rp 14 Miliar

Jamaah calon haji (JCH) kloter 8A menaiki pesawat Boeing 747-400 di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar, Minggu (9/10). Pesawat jenis tersebut mendarat untuk pertama kali setelah tim verifikasi Ditjen Perhubungan Udara menyatakan bandara SIM layak untuk pendaratan pesawat jenis jumbo jet. (SERAMBI/M ANSHAR)

Jamaah calon haji (JCH) kloter 8A menaiki pesawat Boeing 747-400 jenis jumbo jet di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Blangbintang, Aceh Besar. (SERAMBI/M ANSHAR)

Banda Aceh — Bandara Udara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Provinsi Aceh sudah bisa langsung memberangkatkan jamaah yang akan umroh maupun berangkat haji langsung dari Aceh ke Jeddah, tanpa harus transit ke Jakarta.

General Manager PT Angkasa Pura II Kantor Cabang SIM M Wasfan Wahyu Widodo saat Airports Visit 2013 mengatakan tahun 2012 lalu pihaknya sudah menerbangkan jamaah haji langsung sebanyak 320 jamaah dengan sepuluh penerbangan.

“Dengan penerbangan umroh langsung tersebut jamaah bisa menghemat biaya Rp5 juta karena jamaah tidak perlu keluar biaya untuk penerbangan transit,” ujarnya.

Namun sayangnya penerbangan langsung tersebut dengan maskapai Batavia Air kini menjadi sirna kembali dengan dipailitkannya maskapai tersebut, penyelenggaraan umroh tersebut terhenti.

Bahkan saat ini kata Wasfan, pihaknya telah menawarkan penyelenggaran umroh langsung dari Aceh ke Jeddah kepada Lion Air, namun maskapai tersebut belum bersedia.

Akibat terhentinya layanan terbang langsung umroh maupun haji, kini managemen Angkasa Pura ll SIM merugi puluhan miliar per tahunnya. Oleh karenanya PT Angkasa Pura ll terus mensubsidi guna mengembangkan usaha dan fasilitas bandara SIM.

Tahun ini pihaknya mendapatkan alokasi dana Rp14 miliar atau naik 300 persen dari anggaran tahun lalu yang hanya Rp4 miliar untuk membiayai pembangunan 12 mata anggaran antara lain pembangunan pagar beton, pengadaan instalasi travo, emergency exit di tower, dan lain-lain.

Mengenai kerugian, tahun lalu mencapai Rp23 miliar karena masih tingginya beban usaha seperti pengeluaran rutin gaji pegawai dan penyusutan peralatan seperti radar yang mencapai Rp33 miliar per tahun.

Namun katanya, Bandara SIM sebenarnya memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan agar bisa menutup beban usaha atau malah meraih untung karena potensi jamaah umroh asal Aceh yang mencapai 3.000 orang per tahun, di samping jamaah haji yang mencapai sekitar 5.000 orang per tahun.

Selain potensi dari penyelenggaraan umroh, dia menyebutkan transit pesawat dari dan ke luar negeri juga menambah pendapatan. “pesawat dari Balikpapan yang mau ke Jeddah bisa transit di sini,” katanya.

Bandara SIM merupakan bandar udara kelas 4 bersama dengan bandara Halim Perdanakusuma, Husen Sastranegara, dan Pangkal Pinang dibawah pengelolaan AP II. (poskotanews.com)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com