Menulis Bisa Jadi Alternatif Lapangan Kerja

Sebanyak 50-an pelajar SMA/SMK/MAN se-Kota Padangpanjang mengikuti Pelatihan Jurnalistik Bagi Siswa/Siswi Tingkat SLTA yang digelar Humas Setdako Padangpanjang, Senin (26/8), di aula Balaikota Padangpanjang. (Ist)

Sebanyak 50-an pelajar SMA/SMK/MAN se-Kota Padangpanjang mengikuti Pelatihan Jurnalistik Bagi Siswa/Siswi Tingkat SLTA yang digelar Humas Setdako Padangpanjang, Senin (26/8), di aula Balaikota Padangpanjang. (Ist)

ZAMAN sekarang, aktivitas menulis bukan lagi sekadar bakat dan hobi. Menulis, bila ditekuni secara bersungguh-sungguh, bisa menjadi alternatif pekerjaan ketika lapangan kerja sulit didapat setelah jenjang pendidikan selesai ditempuh.

“Ketika lapangan pekerjaan sulit, maka menulis bisa menjadi alternatif pekerjaan yang menjanjikan,” kata Muhammad Subhan, Pegiat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia ketika menyampaikan materi “The Power of Writing” di hadapan 50-an pelajar SMA/SMK/MAN se-Kota Padangpanjang dalam Pelatihan Jurnalistik Bagi Siswa/Siswi Tingkat SLTA yang digelar Humas Setdako Padangpanjang, Senin (26/8), di Aula Balaikota Padangpanjang.

Dia membandingkan, jika bertekun-tekun menulis puisi, cerpen dan mampu menembus penerbit konvensional untuk naskah novel, honor dan royalti yang ditawarkan media massa dan penerbit sangat menggiurkan dan dapat digunakan untuk bertahan hidup.

“Banyak penulis sukses yang membuktikan mereka bisa hidup dari menulis,” ungkapnya.

Namun dia juga berpesan, menjadi penulis tidak harus instan, tetap berjuang keras dengan cara belajar bersungguh-sungguh, banyak membaca buku, terus melakukan latihan menulis dan tidak menyerah ketika terjadi penolakan dan mendapat kritik dari pembaca.

“Untuk sukses butuh proses, begitu juga menulis. Dalam hal proses, jatuh bangun lumrah. Yang sukses adalah yang mampu bertahan dan tetap berkomitmen dengan dunia yang digelutinya,” kata penulis novel “Rinai Kabut Singgalang” ini.

Kepada siswa-siswi peserta latihan dia mendorong agar tetap tekun belajar guna mengejar cita-cita, namun sebaiknya tidak meninggalkan aktivitas menulis. “Nanti, yang cita-citanya menjadi dokter, maka dokter yang menulis. Yang menjadi PNS, adalah PNS yang menulis. Yang menjadi pengusaha, juga pengusaha yang menulis. Jika tradisi menulis ini sudah menjadi tradisi di masyarakat, Indonesia akan sangat maju di mata dunia,” katanya.

Dalam kaitan menembus media massa, papar Muhammad Subhan, maraknya keberadaan media memberi peluang kepada para penulis lepas (freelance) untuk mempublikasikan karya mereka.

“Selain mengandalkan hasil liputan dari para wartawannya, media juga memerlukan tulisan-tulisan dari luar. Bentuknya bisa berupa surat pembaca, artikel, esai, puisi, cerpen, cerbung, resensi buku, dan lainnya,” kata dia.

Walau begitu, tambahnya, para penulis pemula harus mencermati kriteria layak muat tulisan yang dikirim ke sebuah media. Kritia itu, di antaranya tulisan harus sesuai visi dan misi media massa yang dituju sebab tiap-tiap media berbeda segmentasi dan bidang garapannya, topik tulisan yang dipilih aktual, sesuai momen, menjadi hajat orang banyak dan tulisan harus berbobot.

Selain menghadirkan narasumber dari FAM Indonesia, pelatihan yang berlangsung hingga Selasa (27/8) itu, juga mengundang pemateri lainnya, di antaranya Firdaus (pengasuh Koran Harian Rakyat Sumbar), Dalmenda Pamuntjak (Praktisi Pers) dan Ampera Salim (Kabab Humas Setdako Padangpanjang). (rel)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com