Mahasiswa dan Antropolog AS Teliti tentang Budaya Aceh

Jennifer FraserBELASAN mahasiswa dan antropolog dari Oberlin College Amerika Serikat (AS) melakukan penelitian di Aceh sejak Minggu (12/1/2014). Mereka akan berada di “Tanah Rencong” selama enam hari untuk meneliti keterkaitan antara seni dan budaya Aceh dengan agama Islam yang dianut masyarakat.

Penelitian dilakukan dengan mengunjungi tempat wisata religi, seperti Masjid Raya Baiturrahman, sejumlah dayah (pesantren tradisional), situs budaya, dan melakukan pertemuan langsung dengan tokoh ulama dan masyarakat Aceh.

Antropolog sekaligus pemandu mahasiswa itu, Jennifer Fraser PhD, mengatakan, Aceh merupakan daerah yang menarik untuk dikunjugi dan diteliti kebudayaannya. Banyak cerita menarik tentang Aceh di media massa, namun lebih bagus didatangi secara langsung untuk diteliti.

“Saya ke sini membawa langsung mahasiswa saya untuk melihat tentang seni dan Islam daripada membaca di media agar dapat bertemu langsung dengan pemeluk Islam di Aceh,” katanya saat membawa mahasiswanya berkunjung ke Lampulo, Banda Aceh.

Dikatakan, dengan berkunjung langsung mahasiswa tidak hanya mengetahui apa yang tertulis di media, tetapi lebih dari itu bisa memperluas pengetahuan dan pemahaman. Dia membawa sepuluh mahasiswa ke Aceh.

Jennifer yang juga dosen Oberlin College itu mengajak mahasiswa untuk berkeliling kota Banda Aceh dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Aceh. Tidak hanya masjid raya, mereka juga mengunjungi wilayah-wilayah yang terkena tsunami

Jennifer mengatakan, nilai budaya di Aceh sangat identik dengan ajaran Islam yang berkembang. Hal itu dapat dilihat dari seni budaya yang ditampilkan dalam tari Saman dan Seudati yang sangat terkait dengan Islam.

Selain nilai pada kedua jenis tari yang dinyatakannya identik dengan Islam tersebut, Jennifer bersama mahasiswanya juga ingin meneliti lebih lanjut tentang kesenian lainnya yang memiliki keterkaitan dengan Islam.

“Kami ingin meneliti apakah ada keterkaitan antara kesenian dengan agamanya. Kalau di sini, tari Saman dan Seudati sangat terkait dengan agama. Saya sebagai antropolog lebih melihat langsung di suatu tempat supaya lebih mengerti dan memahami suatu kondisi,” tandasnya.

Aceh yang sering mewakili Indonesia dalam berbagai kegiatan internasional bidang kebudayaan religi merupakan alasan mereka untuk meneliti lebih lanjut tentang sejarah dan kondisi kekinian budaya Aceh yang religius.

Sehari sebelumnya, mereka juga berkunjung ke kampus kesenian Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala (FKIP Unsyiah) Banda Aceh, untuk bertemu dengan sejumlah dosen dan mahasiswa membahas tentang kesenian di Aceh.

Oberlin College merupakan salah satu perguruan tinggi di AS yang menjalin kerja sama dengan Unsyiah. Setiap tahun, Oberlin College mengirim dua mahasiswanya ke Unsyiah, demikian juga sebaliknya.

Menurut Jennifer, para turis yang ingin melakukan penelitian ke Indonesia selama ini hanya mengunjungi Bali dan Jawa. menurutnya, ini langkah yang salah karena banyak daerah di Indonesia yang layak dikunjungi dan diteliti budayanya.

“Saya memilih Aceh sebagai tempat penelitian budaya karena bagi saya sangat penting karena banyak mewakili Indonesia dalam setiap kegiatan internasional berasal dari daerah yang islami, seperti Aceh,” katanya.

Selama di Aceh, mereka ditemani seorang pemandu untuk menunjukkan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Pemandu sengaja dipersiapkan Unsyiah untuk mendampingi para mahasiswa dan dosen tersebut.

“Mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam dan budaya Aceh. Jadi, saya selalu bersama mereka untuk mengunjungi tempat yang ingin mereka teliti,” kata pemandu, Jerryanda Pratama Putra, yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsyiah itu. (*/analisadaily)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com