Sambut HUT RI 72, Aceh Tengah Gelar Lomba Pacu Kuda

MENGUNJUNGI dataran tinggi Gayo selalu memiliki sensasi berbeda bagi siapapun yang mengunjunginya. Hawa yang dingin serta alam yang indah menjadi pemikat untuk melepas penat.

Berada di ketinggian sekitar 1800 meter di atas permukaan laut (mdpl), Takengon sebagai Ibukota Kabupaten Aceh Tengah menyimpan berbagai keunggulan alam dan budaya, khususnya atraksi budaya, salah satunya kehadiran perlombaan tradisional pacuan kuda yang telah menjadi ikon dan tradisi turun temurun masyarakat di Gayo.

Perlombaan Tradisional Pacuan Kuda dengan mengusung tema “Terus Berpacu Lestarikan Budaya Majukan Negeri” merupakan bagian dalam rangka menyambut HUT RI 72 yang akan diselenggarakan 21 – 27 Agustus di Lapangan Pacuan Kuda H. M. Hasan Gayo Belang Bebangka Pegasing, Aceh Tengah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi mengatakan, bahwa dataran tinggi Gayo memiliki banyak ragam pesona alam dan budaya sebagai daya tarik wisata yang layak dijual dan dipromosikan kepada wisatawan nusantara dan mancanegara, salah satunya Perlombaan Tradisional Pacuan Kuda.

“Perlombaan pacuan kuda merupakan atraksi wisata unggulan tahunan yang terangkum, baik dalam Calendar of Event Aceh, maupun Calendar of Event Kementerian Pariwisata RI. Ini menjadi triger dalam rangka mewujudkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun 2019,” ungkap Reza Fahlevi.

Kegiatan pacu kuda yang umumnya diikuti tiga kabupaten seperti Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues telah menjadi tradisi dan semangat dalam menyatukan masyarakat di dataran tinggi Gayo.

“Kegiatan ini memiliki nilai dan semangat yang patut dijaga oleh masyarakat Gayo, terlebih lagi selalu diselenggarakan pascapanen padi dan menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala kerja keras dan keberhasilan yang dicapai oleh masyarakat setempat,” tambah Reza.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menambahkan, adanya kegiatan perlombaan tradisional pacuan kuda di Takengon ini menjadi momen yang pas untuk promosikan wilayah dataran tinggi Gayo dengan berbagai potensi dan kekayaan alamnya.

“Kita berharap, kegiatan ini tidak hanya mengajak wisatawan untuk menikmati sensasi unik pacuan kuda dengan kelihaian para joki tanpa pelana, tapi juga dapat mempromosikan daerah Gayo sebagai destinasi wisata agro dan adventure kepada wisatawan”, ungkap Rahmadhani.

Tahun ini, sekitar 400 peserta dari berbagai daerah di daratan tinggi Gayo akan ikut serta meramaikan perlombaan tradisional pacu kuda tersebut dan angka ini meningkat dibandingkan tahun 2016 yang hanya diikuti oleh 350 peserta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com