Cerpen | Kutunggu Jandamu

Oleh Muhadzdzier M Salda

SAMIR duduk diam termangu di tangga rumah panggung peninggalan orang tuanya. Wajah lesu tak bergairah menampakkan kalau ia sedang mengalami sesuatu hal paling buruk semasa hidupnya. Seburuk status yang disandang selama ini, perjaka tua. Umur kepala empat bukanlah masa yang baik untuk seorang lelaki yang masih perjaka. Perjaka ting-ting!

Pekerjannya sebagai guru sastra di sekolah menengah pertama tak selamanya membuat ia bisa menikmati hidup dengan bahagia. Sebagai lelaki yang sudah lebih separuh baya, belum memiliki pendamping hidup bukanlah hal yang tepat. Sedang adiknya Rohid telah lama berkawin dan telah punya anak tiga. Ketiga-tiganya perempuan.

Samir bukan tidak bisa kawin bersebab harga emas untuk membayar mahar perempuan di Aceh yang terlalu tinggi. Tidak! Bukan itu alasan Samir belum berkeluarga. Ia pernah ungkap padaku ketika lebaran haji lalu berkunjung ke rumahnya, dengan istriku yang dulunya satu sekolah dasar dengan Samir.

Mak Samir pernah menawarkan si Romlah kepadanya. Janda beranak dua yang di tinggal mati suaminya ketika sebuah peluru nyasar kian hari menyalak di kampungnya. Tapi Samir menyebut tidak sedikit pun menaruh perasaan pada Romlah. Tak paham ia ketika banyak duda dari kampung sebelah yang mengincar Romlah. Sedang Samir menolak mentah-mentah janda Romlah itu.

Padahal, Romlah boleh di kata seorang janda cantik dengan tinggi semampai. Kulit betisnya saja kuning langsat membunting bak biji padi yang menguning. Halus mulus tanpa polesan. Tapi Samir tak juga keluar air liurnya melihat ustadzah itu. Tubuhnya yang ranum menampakkan kalau ia masih bisa memberikan anak untuk Samir.

Kini Romlah hanya menjadi guru mengaji anak-anak di balai dayah Haji Suman di kampungnya.

Samir perjaka waktu ia masih kuliah di Darussalam adalah sosok wajah lumayan tampan. Kepalanya yang tampak botak menunjukkan kalau ia seorang mahasiswa yang pintar. Apalagi ditambah dengan memakai kacamata seakan menunjukkan ia orang yang pintar. Beberapa mahasiswi pernah menaruh perhatian padanya. Entah saja mahasiswi itu melirik Samir yang punya sepeda motor merek Honda Cup 70 kala itu.

Jarang sekali mahasiswa bisa pakai sepeda motor di tahun 80-an waktu itu. Para mahasiswi itu ada yang mengajaknya menemani mereka ketika membuat tugas di perpustakaan kampus. Tapi Samir tetap saja menolak ketika seseorang dari mereka mengajak kencan malam mingguan.

Samir ingin menjaga perasaanya pada Nurol, seorang aktivis dakwah di kampusnya. Sosok perempuan yang pernah menolak cinta Samir ketika mereka minum bandrek di depan BRI Darussalam. Nurol menolak dengan halus. Tidak pula ia jelaskan alasannya kenapa.

Gundah gulana benar hati Samir ketika itu. Pernah pula ia berpikir untuk meloncat saja ke krueng Lamnyong ketika cintanya kepada Nurol bertepuk sebelah tangan.

***

Pagi itu Samir tertegun ketika sebuah sepeda motor melintas di depan rumahnya, dikendarai sepasang suami istri. Mereka terkesan mesra sekali. Mirip sepasang pengantin baru menikah, walau sebenarnya sepasang suami istri itu telah berumah tangga sepuluh tahun lalu. Tercengang Samir melihat kejadian itu.

“Bukankah itu Kasem?” ia mengucap dalam hati. Ia tertegun membisu. Detak jantungnya seperti terhenti. Berlinang air mata Samir melihat sepasang pasutri (pasangan suami istri) itu melintas. Wajahnya tertunduk lesu melihat kejadian itu. Tak kuasa ia melihat Kasem telah memperistri Nurol. Kasem teman seperjuangannya di kampus.

“Aku masih menunggumu Nurol, kutunggu jandamu walau engkau telah jadi nenek nantinya, hanya padamu aku masih berharap cinta dan kasih sayang. Aku masih berharap engkau akan jadi ibu bagi anak-anakku,” Samir membatin.

Setelah berkata seperti itu dalam hatinya, Samir ke kamar merebahkan badannya yang layu. Otot-ototnya lemas terkulai. Sorot tajam matanya memandang ke sebuah foto dalam bingkai besar di dinding kamarnya. Di bawahnya bertuliskan  “Permataku Yang Hilang, Kutunggu Jandamu”.[]

Darussalam, 2 Juni 2009

Penulis adalah murid Sekolah Menulis Do Karim, Banda Aceh

10 Comments

  1. kia.birda

    17 September 2009 at 06.15

    Sayang sekali si Samir.
    knp tak d nikahi saja si Romlah.. kl sdh tau nurul sdh d nikahi kasem..?

  2. reza

    17 September 2009 at 06.46

    bagiku membaca cerpen ini sama juga dengan mendengarkan cerita dari si penuturnya. ini tentu saja karena kalimat-kalimat di dalamnya lugas dan singkat. namun terlepas dari itu semua, aku agak kurang setuju dengan kalimat ending cerpen ini. menurutku, kalimat yang tertera dalam tanda kutip -“permataku yang hilang”- itu adalah kalimat yang sama yang pernah aku baca dalam sebuah roman yang kalau tak salah berjudul tenggelamnya kapal van der wijck. dan untuk kalimat setelahnya -“kutunggu jandamu”-, juga sering saya baca di kaca depan atau di dinding mobil penumpang labi-labi (sudeco) di kota banda aceh. dari itu, atas penemuan dua kalimat itu, aku agak sedikit mengernyitkan dahi karenanya. terimakasih. salam.

  3. Muhadzdzier M.Salda

    17 September 2009 at 13.55

    kia.birda.
    itulah mungkin orang menyebut; Cinta! nanti ceritanya akan kita sambung lagi, sampai Si Romlah Menikah dengan Samir ya. he he.
    nama dan kesamaan adalah fiktif belaka dalam cerita ini. Tabik.

    Reza, terimakasih perhatiannya. benar bahwa kata-kata itu cuma ada dalam roman HAMKA yang sangat dahsyat itu. jauh tertinggal dengan kisah cinta dalam novel Ayat-ayat Cinta yang juga inspirasinya dari Tengelamnya Kapal Van Der wick (hanya persepsi saya). Dan Kutunggu JAndamu adalan jargon yang sering ditulis juga dipantat truk lintas sumatra dengan gambar perempuan sedih soerang wanita. sengaja saya tidak menyebut sumber PERMATAKU YANG HILANG, karena kata-kata itu sudah saya modif sedikit dengan menyambung kalimat KUTUNGGU JANDAMU. saya takutnya pecinta HAMKA akan marah jika saya menyebut permatak uayang Hilang , kutunggu jandamu( kutipan dari Novel HAmka) nah ini yang tak layak karena bisa saj di anggap pelecehan terhadap karya orang lain.

    teriamaskih atas artensinya. salam sejahtera dan bahagia selalu untuk kita semua!

    Muhadzdzier M. Salda

  4. nizar

    17 September 2009 at 14.16

    ehmmmmm….

    judulnya propokatif, jadi teringat truk2 yg hilir mudik jaln banda aceh -medan.
    blm ada yg istimewa dalm cerpen ini, setidaknya belum nampak “kemuhadjirannya”. pemilihan kata masih berkhas ala sekolah do karim nampak kentara seperti “berkahwin”, “bersebab” dsb. bisa dimaklumi karena ajier alumni disitu. namun saya rasa setiap penulis harus mengembangkan gayanya masing-masing..

    pembuatannya seperti terburu2, apa karena untuk media online maka buatnya terburu2? jgn gitulah..

    pemilihan kata2 sepertinya berlawanan secara logika umum yang ilmiah. contoh ” Kulit betisnya saja kuning langsat membunting bak biji padi yang menguning. Halus mulus tanpa polesan. Tapi Samir tak juga keluar air liurnya melihat ustadzah itu. Tubuhnya yang ranum menampakkan kalau ia masih bisa memberikan anak untuk Samir”.

    masak ada ustazah mamer betis? tidak sengaja mungkin? memang kalo tubuh ranum udah pasti bisa kasiih anak?

    ini lagi contohnya “Samir perjaka waktu ia masih kuliah di Darussalam adalah sosok wajah lumayan tampan. Kepalanya yang tampak botak menunjukkan kalau ia seorang mahasiswa yang pintar. Apalagi ditambah dengan memakai kacamata seakan menunjukkan ia orang yang pintar”

    anggapan botak adalah tidak tampan dan belum tentu pinter. kalimat tadi diulangi lagi “dengan memakai kaca mata seakan menunjukkan ia orang pintar”, kan diatasnya udah tadi bilang ia kayak orang pintar?

    masih ingat pelajaran di seramoe teumuleh? jangan pake kata sifat, tapi pake kata kerja. jangan bilang ia gila tapi bilang “ia memutar2 rambutnya sambil mengtakan baru berjumpa obama”, jangan bilang pinter tp bilang soal kalkulus difrensial hanya butuh 2 menit ia slesaikan dsb..dsb..

    ok bang muadjir, cuma ini yg bisa aku berikan, semoga bisa jadi pelajaran bagi kita bersama terutama saya sndiri yang mash dhaif dlm penulisan..

    sukses selalu

  5. Muhadzdzier M.Salda

    17 September 2009 at 21.55

    makasih adun Nizar. itu semu butuh proses.
    dan saya sedang menuju ke arah itu, untuk menjadi Muhadzdzier. sekarang masih copy paste bahsa, gaya bercerita orang-orang. he he

    kulit betis? kalau dikampung2 bis kita liahat dan sering terjadi. orang perempuan yang memakai kain pinggang diatas tumit. saat duduk misalnya kan bisa kita terlihat.
    kalau kata sifat, saya belajar juga bang. he he. kadng luap mana ygn sifat dan kerja.

    banyak hal yang saya petik pelajaran dari komentar adun.
    kalau buru-buru tidak! cerpen ini saya tulis poersis seperit pada tanggal 2 juni 2009 seperti info tulisan di bawah..

    ada banyak hal yang perlu saya pelajari. he he he
    terimaksih banyak.

  6. RN

    18 September 2009 at 07.32

    Mana Edy Miswar? Kok dia tak kasih komentar? Kan ini cerita tentang Edy? hahaha… Atau ini pengalaman Azier sendiri???

  7. Muhadzdzier M.Salda

    29 September 2009 at 22.57

    RN; ha ha ha. dia seprti marah juga aku telah menulis begini rupa. ini bukan cerita Edi M, bukan juga cerita saya tapi ini cerita serupa tapi tak sama. he he..
    tentu saja kejadiannya tidak jauh beda dengan kisah kasih teman kita yang cabul itu.

  8. Bahagia Arbi

    19 November 2009 at 14.34

  9. M. Armiyadi Signori

    26 Desember 2009 at 16.15

    Saya tidak begitu mengerti dunia cerpen, tapi saya membaca cerpen ini berulang – uloang termasuk yang di serambi indonesia. saya suka ide tulisan ini, walaupun ide ini sudah sering di tulis. ku tunggu jandamu atau kubunuh suamimu..

  10. arsyad

    15 Januari 2014 at 10.13

    macam gak ada aja wanita lain.. makanya klo cinta itu yang pertama kepada Allah dan rasulnya.. mencintai seseorang juga karena Allah.. itu di ingat

Leave a Reply

Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com