Promosikan Wisata dengan Kombinasikan Musik dan Olahraga

Sapta NirwandarJakarta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif seringkali menggunakan ajang perhelatan musik dan olahraga sebagai sarana mempromosikan pariwisata Indonesia. Strategi dilakukan karena jumlah penggemar musik dan olahraga sangat besar di dunia.

Sebab itu melalui musik dan olahraga diharapkan bisa menjadi magnet menyedot penggemarnya mengunjungi Indonesia. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Sapta Nirwandar mengatakan pihaknya terus memaksimalkan potensi pariwisata di Indonesia.

Keseriusan ini ditunjukan dengan semakin banyaknya even pariwisata yang digelar dan didukung oleh Kemenparekraf. ”Indonesia punya bentang alam yang sangat indah, ratusan suku dan budaya yang luhur, kuliner yang menggugah selera, hingga bermacam bahasa. Tentunya Anda tak rela bila kekayaan itu tak dikenal oleh mancanegara, kan? Sayang sekali bila keindahan ini tak dilirik sedikit pun oleh mata dunia,” ungkapnya di Jakarta.

Dikatakan, ada dua aspek pokok yang jadi pintu masuk pariwisata Indonesia. Dua hal inilah yang jadi kunci promosi kekayaan Indonesia. Dua aspek itu adalah olahraga, dan musik-budaya.

Tour de Singkarak yang akan berlangsung 4-10 Juni 2012 mendatang adalah salah satu cara promosi daerah lewat ajang olahraga. Apalagi jika event tersebut berskala internasional. Olahraga punya daya tarik tinggi untuk ditonton secara live dan non-live. Pemberitaan di media cukup besar, dan dunia sangat concern akan olahraga.

Sapta memberi contoh, World Cup yang pernah diadakan di Portugal terbukti menaikkan angka kunjungan turis sebesar 5-10%. Lalu ada Cape Town di Afrika Selatan, Beijing di China, dan London yang akan jadi tuan rumah Olimpiade 2012 bulan depan. “Selain ajang olahraga internasional, empat jenis olahraga yang sangat berperan sebagai promosi pariwisata adalah sepakbola, otomotif, tenis, dan golf,” ucap dia.

Tak hanya olahraga, musik-budaya juga sangat berpengaruh sebagai kunci masuknya perhatian dunia terhadap Indonesia. Musik disatukan dengan budaya karena keduanya saling memengaruhi.

“Oleh karena itulah pihak Parekraf menyetujui 6 festival jazz yang akan berlangsung di enam wilayah berbeda tahun ini. Musik bisa menembus garis batas,” tambah Sapta.

Lanjut Sapta, diharapkan dua kunci ‘pintu masuk’ ini bisa meningkatkan pariwisata di Indonesia. “Dua kunci ini yang akan menghasilkan kunci-kunci lain bagi perkembangan pariwisata Indonesia,” pungkasnya.

Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah kegiatan promosi ini tak pelak menemui beberapa kendala, seperti masalah aksesibilitas, masalah kemacetan, masalah pelayanan jasa, dan yang tidak kalah penting adalah masalah kebersihan.

“Tak dipungkiri, sejumlah kendala masih menghambat promosi pariwisata, namun kami akan terus mengupayakan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut,” sebutnya kemudian. (suara pembaruan)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com