Pram Pernah Bilang “Aceh Punya Keberanian Individu”

Pram begitulah sebutan lelaki ini, nama panjangnya Pramoedya Ananta Toer seorang sastrawan Indonesia yang telah banyak menghasilkan karya dan bahkan sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.  

Suatu hari, Pram pernah mengatakan bawah keberanian individu orang Aceh berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia, yang cenderung berkelompok.

[pullquote_left]Saya percaya bahwa Aceh akan bangkit kembali, karena keberanian individual yang dimiliki rakyat Aceh[/pullquote_left]

Hal itu disampaikan oleh Pram pada acara “80 Tahun Pramoedya Ananta Toer; Orasi Pram: Tsunami Aceh dan Indonesia Masa Depan”, di TIM, Jakarta awal tahun 2005 silam.

Pram sendiri mengaku merasakan kelumpuhan pada dirinya saat serangan tsunami menerjang Aceh. “Saya percaya bahwa Aceh akan bangkit kembali, karena keberanian individual yang dimiliki rakyat Aceh,” ujar Pram.

Penulis buku, yang semua karyanya dilarang beredar oleh pemerintah Orba itu, mengaku sempat didatangi sejumlah tamu asal Aceh, untuk berdiskusi seputar banyak hal. Pada kesempatan itu, Pram ingin meminta maaf pada rakyat Aceh, karena sejak jaman kumpeni (Belanda) sampai sekarang, Jawa telah mengirimkan pembunuh bayaran ke Aceh. “Lebih dari seratus tahun. Saya minta maaf,” kata Pram, lelaki tua asal Blora Jawa Tengah itu, mewakili etnisnya.

Keberanian individu rakyat Aceh itu, menurutnya, terbentuk sejak Belanda menduduki Aceh. Kala itu, Jenderal Van Heusch, yang diangkat jadi Gubernur Aceh, mengakui tak mampu menundukkan Aceh. “Dia hanya membikin Aceh pasif.”

Sedangkan keberanian orang-orang zaman sekarang, diklasifikasikan Pram sebagai keberanian kelompok. Ia mencontohkan, seringnya terjadi tawuran antar-kampung, desa, kelompok, bahkan antar-mahasiswa. “Tidak ada keberanian keberadaban, dan tak ada tertukaran pikiran secara jernih. Tawur adalah tanda keberanian kelompok,” tegas lelaki yang sempat mendekam di LP Pulau Nusakambangan itu.

Di akhir pembicaraan mengenai Aceh, Pram menghimbau pada para sejarawan untuk mencoba kembali menyusun sejarah Aceh. Ia juga berharap, kumpulan sejarah tersebut dapat dijadikan bacaan wajib agar masyarakat tahu keberanian individu yang dimiliki rakyat Aceh.

“Saya yakin, Aceh bangkit kembali. Apa pun yang terjadi,” kata Pram sambil mengepalkan tangan. (*/gatra)

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com