Lagu Aceh, Sejarah Buruk Seni yang Sakit

Lagu Aceh adalah budaya yang datang belakangan. Boleh dikata, tidak ada manuskrip kuno yang menceritakan tentang kegiatan bernyanyi di masa silam. Seudati yang ditarikan hanya diiringi jentikan jemari serentak. Tidak ada musik. Hanya rapai, pun seurunee kale.

Jangan jadi tawanan masa lalu. Aceh sekarang telah mengakui bahwa lagu Aceh itu ada, bahkan lagi amat digemari para penyuka halua geulunyueng. Kadang ada juga yang usil menyapa. Mengapa harus sibuk-sibuk membahas lagu Aceh, bukankah itu tak perlu dibicarakan?

Kenyataannnya tidak seperti itu, teungku! Bila kita berjalan di pasar, kalau ada tujuh penjual kaset di areal terbuka, lima di antaranya memutar lagu Aceh. Kenyataan inilah yang membuat kita terpaksa menerima kenyataan bahwa lagu Aceh itu ada. Juga perlu dibahas, karena ia bagian dari karya saudara kita dan hiburan bagi semua.

Hiburan adalah satu dari hal penting dalam hidup. Ketegangan urat saraf bisa santai dengan mendengar musik yang tepat. Musik bisa memengaruhi kreatifitas dan keceriaan kita sehari-hari.

Dari budaya warisan yang kini masih tersisa, kita sebagai generasi Aceh yang entah keberapa, bisa mereka-reka bagaimana sebenarnya orang Aceh di masa silam. Seudati. Gerakan seudati mencerminkan bahwa orang Aceh di masa silam membentuk hiburan yang berbaur dengan doktrinitas agama.

Sayangnya, hiburan yang dibauri doktrin pun dinilai bertentangan dengan doktrin itu sendiri. Seudati dinilai hiburan yang mengakibatkan orang lalai dari mengingat Tuhan. Menari-nari itu dilarang! Rapai dan suara seurunee kale pun begitu.

Sudahlah! Biarlah ahli hukum agama yang bicara perkara agama. Kita bicara perkara lagu Aceh. Terserah apapun hukumnya. Sebagian kita merasa bahwa lagu Aceh yang kini beredar banyak yang tiruan dari lagu luar Aceh. Sebagiannya, hanya meneruskan irama tradisi. Apakah ini bisa disebut tidak kreatif?

Sejarah lagu Aceh yang tidak ada di masa lalu apakah akan membuat kita menerima lagu tiruan sebagai lagu Aceh? Atau mitos kedaerahan dan lokal membuat para pembuat lagu dan pelagunya bekerja asal-asalan. “Ah, hanya lagu lokal, kan tidak apa-apa meniru”. Atau, pembuat lagu itu menganggap orang Aceh bodoh tidak tahu sedang ditipu dengan karya imitasi.

Plagiatnya lagu Aceh adalah salah satu budaya terburuk dalam budaya Aceh di zaman ini. Peniruan yang tanpa izin ini mencerminkan Aceh bukan manusia terhormat, bukan orang yang bisa menghargai sebuah karya. Terpaksa disebut, sejarah lagu seni Aceh sedang sakit.

Perjalanan proses lagu Aceh adalah perjalanan individual penuh mimpi. Penuh persaingan dan bisnis finansial, sehingga bila ditelusuri lebih lanjut, mungkin akan ditemukan bahwa pembuatan lagu sama seperti bisnis lain. Hanya demi keuntungan materi semata. Tentu tidak semua begini.

Para plagiator adalah manusia tidak punya malu. Apalah susahnya membuat lirik atau irama lagu. Kalau mahu berpikir, itu mudah bukan? Seperti disebutkan tadi, sejarah budaya terburuk dalam budaya Aceh adalah sejarah plagiatnya lagu-lagu.

Mungkin selama ini masyarakat kurang memprotes perkara plagiat lagu-lagu Aceh itu. Sehingga pembuatnya tidak merasa malu menjiplak, tapi mengatakan itu karyanya. Bila masyarakat Aceh lebih cerdas, mereka tidak akan mengonsumsi karya seni jiplakan.

Atau ada sebab lain, mengapa lagu jiplakan dibuat dan laku di Aceh. Rasa percaya diri seseorang. Rasa percaya diri sebuah rumpun. Mungkin itu juga masalahnya. Ini bermula dari pembuat lagu sendiri, penyanyi lalu produsernya, lalu pendengarnya.

Merasa diri sebagai orang daerah akan memengaruhi karya lagu yang diciptakan. Merasa sebagai penghuni wilayah kecil bisa jadi penyebab lagu itu dibuat asal-asalan. Apapun alasannya, masyarakat Aceh mengharapkan pada pegiat seni lagu Aceh supaya membuat karya asli. Dengan itulah kita bisa bangga.

Selain hal memalukan itu, ada juga hal yang membanggakan. Pasar lagu di Aceh kini seimbang, jika tidak dikatakan lebih dari yang diharapkan. Jika dulu hanya lagu terbitan Jakarta, yang menghiasi dinding dan papan jual kaset, kini CD dan kaset Aceh mendominasi tempat pajangan itu, di antara hasil karya luar Aceh, bahkan luar negeri.

Kenyataan ini menandakan orang Aceh masih cinta pada hasil usaha saudaranya, kendati tiruan. Maraknya bisnis entertainment ini membentuk sebuah paradigma lain bagi pelancong ke Aceh. Mereka akan menilai, dalam segi mengonsunsi karya hiburan via kaset dan CD, Aceh telah jadi wilayah berbudaya kuat, yakni berkesan sebagai negara bagian, yang budayanya terpisah dari induk.

Tahap ini mungkin bisa ditingkatkan dengan menghasilkan karya orisinil. Kita juga maklum. Budaya lagu Aceh adalah budaya baru, wajar saja bila pada tahap pertamanya meniru. Namun, kini bukan zamannya lagi. Tampakkan bahwa Aceh bisa membuat karya asli, sekeras dan sebesar apapun usaha yang dibutuhkan untuk itu.

 

By the way, salut juga atas semangat para pegiat seni tarik suara di Aceh. Kualitas oleh vokal kalian kini meningkat, kendati harus dilatih lagi. Selain kualitas suara, ramuan musik pun harus kalian tingkatkan. Beberapa di antara kalian telah melakukannya.

Selain suara dan musik, lirik lagu pun masih ada yang bisa diperbaiki. Semoga tidak ada kalimat boros di lagu kalian. Bukankah lirik lagu itu pendek dan akan kalian dan orang lain ulang dalam waktu lama? Nah! Kalian harus berlatih terus! Jangan terlalu cepat puas dengan beberapa kaset yang tidak semuanya karyamu itu asli.

Sebagai penyuka lagu berbahasa Aceh, kami ingin mendegar karya yang bisa membuat kami bangga. Kami ingin mengucapkan “inilah karya saudara kami!” Nah! Kendati di masa silam lagu Aceh tidak ada, di zaman ini kalian adalah pengembang sebuah budaya. Jadi, karya asli dari kalian memang ditunggu.

Karya seni sebuah generasi atau kumpulan manusia mencerminkan isi kepala generasi atau kumpulan manusia tersebut. Bila karya seni itu bermutu dan asli, tentu saja masyarakatnya adalah manusia kompeten.

Makanya, lagu plagiat yang disebut karya oleh penyanyi Aceh membuat peseni lain berang. Karena itu pun terkait dengan tempat lahir dan nasab mereka. Tentang tendensial dalam sebuah lagu, tak perlu disebutkan di sini, karena ini bukan kuliah. Bukan pula sebuah doktrin, hanya ulasan sepintas, apresiasi dari penyuka bentuk pengembangan seni budaya ini. ***

*Thayeb Loh Angen, Penulis novel “Teuntra Atom

5 Comments

  1. KK

    4 Oktober 2009 at 09.29

    Lihat dulu status musik dan lagu itu sendiri, jangan seolah-olah pelaku musik di Aceh semuanya pembajak. Apabila kita sudah tahu bagaimana proses dari produk seni itu sendiri, barulah kita boleh berbicara…. Tidak semua orang dapat melakukan hal yang sama. Tetapi, ini adalah sebuah produk.

  2. M. Armiyadi Signori

    22 Desember 2009 at 23.47

    Tulisan yang menarik, emang ada beberapa penyanyi Aceh yang menyanyikan lagu Aceh yang orisinal seperti komunitas nyawong, kande dan raket. tapi persoalanya sangat banyak lagu aceh yang hanya di ubah dari bahasa indonesia atau bahasa india ke bahasa Aceh. sehingga yang kita dengar adalah lagu dandut atau india dalam bahasa aceh, sama sekali tidak membuat kita bangga terhadap karya seperti itu.

  3. deknong

    16 Maret 2010 at 01.11

    Sebuah fenomena yang mengherankan masyarakat Aceh dalah komunitas yang boleh dikatakan yang tidak bodoh dalam memilih pakaian yang punya merek berkualitas (well-branded fashion). Coba perhatikan penampilan orang aceh dalam memakai celana, baju dan HP sekalipun boleh dikatakan rata2 bermerek bagus dan ga mau milih yang tiruan (merek AJO). Tapi anehnya dalam hal selera musik sangat bertolak belakang, orang aceh pada umumnya belum bisa mengapresiasi / menilai sebuah karya yang berkualitas, selera musik orang aceh masih kelas kacangan baik dari komposisi musik atau liriknya. Lagu2 jiplakan membanjiri pasar musik Aceh!!

  4. Mukhsin Rizal

    17 Maret 2010 at 21.14

    Nilai dari seni menurut saya adalah pada kemampuan memainkan atau memberikan warna dari seni tersebut. jangan berfikir bahwa seni Aceh datang belakangan,. menurut saya itu salah, periwayatan seni Aceh bukan dimulai pada tahun I945 atau setelah belanda memberikan kemerdekaan kepada Indonesia,

    meluruskan ini harus kita kembalikan kepada abu-abu atau tengku tengku pelaku seni yang masih hidup dan tidak tersentuh dengan nuansa dan romantikan saat ini. seni aceh memiliki nilai tersendiri bagi saya seni Aceh juga tidak erat kaitannya dengan islam, karena masyarakat Aceh telah lahir sebelum islam itu ada. (maaf bukan saya anti islam karena saya adalah muslim)

    bagi sebagian muda rasanya malu menikmati lagu yang berbahasa Aceh, menurut saya bukan salah para pelaku seni atau para penyanyi yang menyanyikan lagu Aceh yang salah, tetapi para insan muda saat ini tidak begitu dekat dengan nilai dan seni budaya Aceh itu sendiri dan secara teori budaya itu lahir saat dibutuhkan dan ketika tidak zamannya lagi maka budaya tersebut akan hilang.

    mengungkap tulisan diatas, seni aceh bukan pada nilai instrumen nyanyian atau tiruan dari lagu-lagu luar tetapi saya yakin bahwa sesederhana apapun lagunya atau intrumen musiknya di ambil dari lagu-lagu orang tetapi nilai khusus tetap hadir dalam diri dan penikmat seni itu sendiri.

    not the dokrin be art,

    seni tidak memiliki nilai maksimal dan nilai minimal, karena seni memang tidak dapat dinilai, menurut saya kalo saat ini seni dapat divoting atau diarahkan kepada nilai maksimum dan minimum justru bagi saya itu semua nihil.

    namun demikian semua berpulang kepada kita,
    saya salut dengan tulisan diatas. tetapi muatan nilai terhadap seni budaya Aceh secara umum bukanlah pada lagu-lagu yangdinyanyikan saat ini. ternyat lebih dari pada itu.

  5. deknong

    31 Maret 2010 at 06.40

    Kreatifitas seni musik di aceh cendrung jalan di tempat. Dari zaman Ibnoe Arhas sampai sekarang kebiasaan menjiplak komposisi musik india, dankdhut dan melayu terus “dilestarikan” dan itu sepertinya juga ditolelir oleh AIRA dengan berbagai alasan, mungkin salah satu alasan adalah kompromi dengan selera pasar!! Tidak berlebihan kalau ada pendapat yang mengatakan musik dan lagu aceh masih berkualitas IMITASI…betapa lemahnya kreatifitas para seniman musik bila dalam membuat sebuah komposisi hanya merubah / mengalih bahasakan lyricnya saja,,sedangkan musiknya punya orang lain…!!! Yang lebih lucu para penyanyi aceh yang punya karakter vocal dengan cengkok dankdhut yang kental dengan sangat percaya diri menyanyikan lagu2 nya yang dikemas dengan irama slow rock atau disco…maka jadilah musik slow rock atau disco yang ke-dankdut2an….(han ek ta khem….!!)
    Dari segi kualitas lyricnya pun masih itu2 aja, tema cinta yang picisan, asal bunyi, malah kadang2 lyric lagu aceh cendrung berisi ejekan atau penilaian negatif untuk orang lain, malah yang lebih parah budaya mengejek (meu nyek-nyek) lewat lagu telah diwariskan ke generasi berkutnya!! coba simak lagu2 album BERGEK…..!!

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com