Jakarta — PT ABM Investama tahun ini terus menggenjot produksi batubara. Emiten berkode saham ABMM, melalui anak usahanya PT Reswara Minergi Hartama, menargetkan produksi barubara tahun ini minimal 6 juta per tahun. Angka produksi tersebut naik dari jumlah produksi batubara ABMM tahun lalu yang diperkirakan melebihi 4 juta ton per tahun.

Ade Satari, Sekretaris Perusahaan ABMM menyatakan, target tersebut akan ditopang oleh konsesi pertambangan milik Reswara di Kalimantan Selatan di bawah unit usahanya, yaitu PT Tunas Inti Abadi. Untuk memenuhi target produksi batubara tersebut, Reswara juga akan memaksimalkan konsesi di Aceh, di bawah unit usahanya yakni PT Media Djaya Bersama.

“Tahun ini, kami masih bangun infrastruktur, seperti jalan khusus dan pelabuhan khusus untuk konsesi di Aceh. Kami menargetkan pembangunan infrastruktur tersebut rampung pada akhir 2013,” kata Ade, Selasa (2/4).

Ade juga menjelaskan, setelah pembangunan infrastruktur tersebut selesai, diperkirakan produksi batubara untuk konsesi di Aceh dapat mencapai 20 juta ton per tahun untuk empat sampai lima tahun mendatang.

Menurut Ade, batubara kalori rendah yang diproduksi ABMM di Aceh punya keunggulan, yakni rendah kandungan sulfur dan rendah kandungan abu. Selain itu, adanya konsesi di Aceh bisa lebih menjangkau pasar utama ABMM, yaitu India dan China. Konsesi di Aceh memiliki letak strategis yang bisa menekan biaya pengangkutan.

Seperti diketahui, pada tahun 2011 lalu, harga batubara milik ABMM mencapai US$ 53 per ton. Lalu pada tahun 2012, harga batubara ABMM terjun ke harga US$ 37 per ton. “Saat ini, harga barubara kami merangkak ke US$ 40 per ton. Harga tersebut tergolong murah jika dilihat juga kualitas batubara kami,” jelas Ade.

Sekadar informasi, tahun 2012, ABMM berhasil membukukan pendapatan US$ 886 juta atau naik dibandingkan 2011 lalu yang hanya US$ 753 juta. Dari total pendapatan tahun 2012 tersebut, sebesar 18% disumbangkan dari anak usaha di bidang batubara, yakni PT Reswara Minergi Hartama. (kontan.co.id)

KOMENTAR