Lhokseumawe – Propinsi Aceh harus menjadi salah satu daerah yang nyaman untuk berinvestasi. Selama ini sumber daya alam di Aceh cukup kaya, tapi daerah ini masih jauh tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia, disebabkan investor masih menganggap Aceh belum begitu nyaman untuk melakukan kegiatan usaha.

Berulang kali terjadi penembakan dan banyak dilansir media massa, ikut mempengaruhi investor. Sehingga wajar, kendati potensi sumber daya alam (SDA) melimpah, tapi tidak tergarap dengan baik.

[pullquote_left]Jangankan untuk bersaing dengan daerah lain, untuk mempertahankan hasil industri yang sudah ada saja megap-megap[/pullquote_left]

“Masyarakat juga harus memberikan keleluasan kepada setiap investor yang akan masuk ke Aceh. Disamping pemerintah memberikan kemudahan berupa perizinan, kondisi di mana kawasan yang akan digarap juga jangan ada gangguan. Sehingga keberadaan investor merasa dilindungi dan bisa nyaman melakukan investasi,” kata pemerhati sosial dari Universitas Malikussaleh, Abdul Rahman A Muis ST Meng, kepada MedanBisnis, Rabu (23/5).

Tanpa itu, menurut Rahman, ekonomi Aceh sulit bangkit. “Jangankan untuk bersaing dengan daerah lain, untuk mempertahankan hasil industri yang sudah ada saja megap-megap. Bayangkan, berapa industri kelas atas di Aceh yang sudah tutup dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda untuk berproduksi kembali, seperti pabrik kertas, pabrik pupuk dan lain sebagainya. Yang masih bertahan saat ini cuma ExxonMobil dan PT Arun, itu pun akan berakhir masa kontraknya,” paparnya.

Memang, sambungnya, ada wacana PT Arun akan menjadi terminal gas, pabrik kertas akan dihidupkan kembali, begitu juga pabrik pupuk ASEAN. “Tapi ternyata. masih dalam tataran wacana belaka, belum ada bukti konkrit. Buktinya hingga kini belum ada tanda-tanda, baik dari perusahaan BUMN maupun swasta, menunjukan keseriusan untuk menghidupkan pabrik-pabrik tersebut,” katanya. (Sugito Tassan/Medan Bisnis)

KOMENTAR