Takengon – Menindak lanjuti temuan tulang manusia pra sejarah yang diperkirakan berumur 3500 tahun di ceruk Mendale Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah pada Maret tahun lalu, Balai Arkeologi Medan Juni mendatang akan melakukan penelitian kembali untuk menambah data yang sudah di tentukan.

Penelitian tersebut di lakukan kembali untuk mengumpulkan lebih banyak data sehingga peradaban masa lampau di Takengon semakin jelas, baik dalam kontek lokal, Nasional maupun Ragional, kata Peneliti Arkeologi Medan, Ketut Wiradnyana senin (29/3/2010).

Dalam peninjauan di lokasi ceruk mendale dan sekitarnya, ketut mengatakan sangat meyayangkan masih terjadinya perusakan terhadap situs di Loyang Mendale, pada sisa kerukan tanah untuk galian C masih ditemukan artefak berbahan batu dan tanah liat.

Menurut Ketut, dua buah artefak batu itu merupakan kapak batu yang berteknologi dari masa mesolitik yang lebih tua umurnya dari 3500 tahun yang lalu.

Ketut berharap Pemda setempat segera menyikapi kondisi yang rusak tersebut dengan berfartisifasi luas pada kegiatan yang akan di lakukan oleh balai Arkeologi Medan Juni Mendatang.

Bupati Aceh Tengah kata ketut sudah memberikan sinyal positif akan keterlibatan Pemda dalam penangana situs mendale saat pembukaan Ekspo Budaya Leuser 2010 di lapangan Musara Alun Takengon.

Sementara itu seorang pengurus Forum Penyelamatan Lut Tawar Khalisuddin saat mendampingi Ketut saat melihat situasi ceruk Mendale, menyebutkan sejumlah temuan benda pra sejarah tersebut adalah momentum penting bagi masyarakat Aceh pedalaman dalam menggali sejarahnya.

“Bupati Aceh Tengah sudah memberikan sinyal yang positif untuk mendukung tindak lanjut penelitian tersebut saat memberikan sambutan pada pembukaan Expo Budaya Leuser. Tinggal saja bagaimana pihak terkait di Aceh Tengah membangun komunikasi dengan lembaga teknis kepurbakalaan terutama pihak Balar Medan,” ujar Khalis yang terlihat sangat akrab dengan Ketut ini.

Salah seorang warga Takengon Aman Shafa mengatakan, sangat disayangkan bila Pemda setempat tidak terlibat dalam kegiatan Balai Arkeologi pada Juni mendatang karena berkesan masyarakat Takengon tidak perduli lagi dengan akar budaya masa lampau.(*/ha/zun)

KOMENTAR