Banda Aceh — Ekspor kopi arabika asal dataran tinggi Tanah Gayo yang dikirim ke sejumlah negara, terutama tujuan Eropa dan Amerika Serikat, mencapai 50.000 ton/tahun.

“Alhamdulillah, minat pasar kopi dunia terhadap kopi arabika Gayo asal Aceh Tengah dan Bener Meriah terus meningkat dari tahun ke tahun,” kata Ketua Forum Kopi Aceh (FKA) Mustafa Ali yang dihubungi dari Banda Aceh, Selasa (5/6).

Dijelaskan, saat ini harga kopi produksi petani di dataran tinggi Gayo terus beranjak naik pascapanen awal tahun 2012. Biji kopi arabika jenis asalan kini Rp 43.000/kg, gabah Rp 25.000/kg. Sementara untuk jenis kopi yang sudah siap dipasarkan dengan kandungan air berkisar 13 sampai 14% kini harganya menembus Rp 48.000/kg.

“Kenaikan harga itu membuat para petani kopi di dataran tinggi Tanah Gayo semakin bergairah untuk bercocok tanam komoditas ekspor itu,” katanya menjelaskan.

Hingga saat ini, kata Mustafa, tanaman kopi dengan luas areal mencapai 48.000 hektare itu digarap oleh sekitar 33.000 kepala keluarga (KK) masyarakat petani di Aceh Tengah. Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah, luas lahan kopi mencapai 39.000 hektare dengan keterlibatan petani penggarap sekitar 29 ribu KK tersebar hampir seluruh kecamatan di wilayah itu.

“Artinya, tanaman kopi menjadi andalan pendapatan masyarakat di dua daerah lumbung kopi di Aceh itu,” kata Mustafa Ali menambahkan.

Mustafa juga menjelaskan, produksi kopi masyarakat di daerah berhawa dingin itu saat ini rata-rata mencapai 700 kg/hektare/tahun. Namun ditargetkan beberapa tahun mendatang produksi rata-rata bisa mencapai dua ton/hektare/tahun.

“Target dua ton/hektare pertahun produksi kopi masyarakat itu bisa tercapai dengan harapan para petani akan mendapatkan pelatihan dan pendidikan yang lebih memadai tentang tatacara berkebun dengan baik,” kata Mustafa. (ant)

KOMENTAR