INDONESIA patut berbangga dengan prestasi anak negeri yang beberapa waktu lalu telah mengharumkan nama negeri ini di Korea dalam sebuah acara Busan International Film Festival (BIFF).

Dalam sebuah konferensi pers sekaligus penutupan festival film terbesar di Asia, Sabtu (12/10) lalu, film dokumenter yang berjudul JALANAN berhasil menyabet predikat film dokumenter terbaik dengan menyisihkan 11 film dokumentar lainnya yang ikut dalam kompetisi tersebut dan penghargaanya pun diterima langsung oleh Ernest Hariyanto selaku editor dan co-produser film JALANAN.

Film yang mengisahkan tiga orang musisi jalanan Jakarta tersebut akhirnya menjadi kesempatan gemilang, kenapa tidak karya anak bangsa Indonesia ini juga menjadi kemenangan pertama kalinya untuk film Indonesia selama 18 tahun sejarah festival film di Busan.

Tiga orang yang berperan dalam film yang berdurasi 107 menit tersebut menceritakan keseharian Boni, Titi dan Ho yang sehari-harinya mengamen di bis kota. Tidak hanya itu, film ini menggambarkan dari dekat perjuangan mereka di belantara beton Jakarta, dengan gaya yang ‘nyeleneh’ dalam menyikapi tantangan hidup, dan di saat yang sama memperlihatkan wajah ibukota yang garang, tapi sekaligus jenaka dan apa adanya.

Pada kesempata world premiere di BIFF, kru Jalanan juga mengajak Ho, salah satu karakter di film ini, untuk hadir dan menghibur masyarakat Busan lewat penampilannya yang memikat.

Tim juri kategori Wide Angle, kategori di mana film ini berkompetisi, terdiri dari Ryan Harrington (produser film; Tribeca Film Institute, New York), John Badalu (produser film; Indonesia) dan Min Hwan-ki (sutradara film; Korea). Di dalam pernyataan resminya, BIFF menyatakan bahwa JALANAN layak menjadi pemenang karena film ini memperlihatkan sistem kelas di Indonesia melalui karakter-karakternya yang hangat dan tidak berlebihan.

“JALANAN dibuat untuk memberi suara kepada yang tidak punya suara, dan untuk membuat perjuangan masyarakat yang sehari-harinya terlupakan menjadi lebih personal,” ujar Daniel Ziv selaku sutradara sekaligus produser film JALANAN.

Daniel juga menyebutkan film karnya ini merupakan surat cinta kepada Jakarta. “Ini film surat cinta saya terhadap Jakarta, sebuah kota yang permukaannya tampak garang namun penuh dengan kehangatan, energi dan harapan; sebuah kota yang tenggelam dalam korupsi dan ketidaksetaraan namun dihuni oleh orang-orang dengan hati yang murni dan berbakat,” sambungnya.

JALANAN adalah proyek film pertama Daniel, penulis buku ‘Jakarta Inside Out’ dan editor pertama majalah ‘Djakarta! – The City Life Magazine’. Pengambilan gambar berlangsung selama empat tahun dan dilakukan oleh tim kecilnya di jalan-jalan ibukota.

JALANAN ditampilkan pertama kali di Indonesia malam ini di Ubud Writers & Readers Festival, di layar tancap di halaman Museum Antonio Blanco, Bali. Film ini direncanakan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia pada awal 2014.[]

KOMENTAR