Gaza — Kekerasan terus terjadi di Israel selatan dan Jalur Gaza setelah pembunuhan pemimpin sayap militer Hamas Ahmed Jabari pada Rabu.

Sejauh ini 15 warga Palestina tewas, beberapa di antaranya anak-anak termasuk balita berusia 15 bulan yang merupakan putra seorang wartawan BBC, Kamis (15/11).

Di pihak Israel, tiga warga tewas akibat serangan roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza dan menghantam gedung apartemen di wilayah selatan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya berusaha keras mencegah korban sipil tetapi menegaskan Israel akan menggunakan segala cara guna melindungi penduduknya.

“Selama beberapa hari dan pekan terakhir, Hamas dan organisasi-organisasi teroris lain di Gaza membuat mustahil lebih dari satu juta warga Israel hidup normal,” kata Netanyahu dalam jumpa pers pada Kamis (15/11).

“Oleh karena itu pemerintah saya menginstruksikan kepada militer Israel untuk melakukan serangan dengan sasaran khusus dan dengan presisi tanpa pemberitahuan sebelumnya, terhadap infrastruktur teroris di Gaza, dan oleh karena itu Israel akan terus menempuh segala upaya yang diperlukan untuk membela rakyatnya,” tegas Perdana Menteri Israel.

Melanggar Gencatan

Menteri Transportasi Israel Israel Katz mengatakan kepada BBC bahwa bila tembakan roket dari Gaza tidak berhenti maka militer akan menjadikan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, sebagai sasaran selanjutnya.

Dia menambahkan tidak ada satu pun pemimpin Hamas yang terbebas.

Sementara itu juru bicara Hamas, kelompok militan Palestina yang menguasai wilayah Jalur Gaza, mengatakan Israel melanggar perjanjian gencatan senjata.

“Empat puluh delapan jam sebelum tindak kejahatan dilakukan di Gaza dan agresi yang terjadi selanjutnya, dicapai kesepakatan awal gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir dan dijunjung oleh semua faksi Palestina,” kata Sami Alzahar seperti disiarkan televisi Palestina.

“Tetapi Israel melanggar kesepakatan ini dengan membunuh komandan senior Ahmed Al-Jabari,” tambahnya.

Oleh karena itu, kata Alzahar, Hamas memandang perundingan tentang gencatan senjata di masa depan tidak akan mempunyai arti. (BBC Indonesia)

KOMENTAR