Jakarta – Pengamat teroris sekaligus hipnoterapis Mardigu menilai, tindakan Densus 88 Antiteror Mabes Polri yang menembak mati Dulmatin cs untuk meredam simpati masyarakat terhadap para teroris itu.

“Rumornya, data mereka (polisi) sudah cukup. Karena sudah cukup, bila polisi memenjarakan mereka maka akan menimbulkan simpati, waktu terbuang, biaya besar, dan dikhawatirkan bisa merekrut sel baru,” ujar Mardigu saat dihubungi okezone, di Jakarta, Kamis (11/3/2010).

Selain itu, Mardigu khawatir mengenai ruang penahanan sebab hingga kini pihak berwajib tidak memiliki penjara khusus untuk tahanan teroris.

Dia mencontohkan seperti yang terjadi pada teroris Amrozi dan Imam Samudra yang dihukum mati tahun lalu. Awalnya masyarakat umum mengapresiasikan penangkapan keduanya. Namun saat dijatuhi hukuman mati dan menjelang eksekusi, malah muncul simpati serta pro dan kontra di kalangan masyarakat.

“Untuk itu mungkin polisi berpikir lebih baik dihukum di tempat,” tutur dia.

Namun begitu, Mardigu menyayangkan keputusan polisi tersebut. Sebab menurutnya, jika saja Dulmatin bisa ditangkap secara hidup, bisa dimintai keterangan untuk penelusuran jaringan teroris.

“Padahal Dulmatin masih sangat vital dibanding Noordin M Top. Harusnya bisa hidup, jadi kita bisa terlusuri strategi mereka selanjutnya,” tutur dia.

Bagi Mardigu, Dulmatin berbahaya secara keterampilan. Dia pernah di Afghanistan, lalu lanjut di Ambon, dan kemudian Mindanao, Filipina.

“Nah dari perilaku dia yang sangat berpengalaman, dia jago membuat bom, jago mengorganize, jago pelatihan, dan jago menciptakan sel-sel baru, ini yang bisa kita gali,” paparnya.

Lebih lanjut dia menambahkan, Dulmatin juga memiliki strategi lain selain pengantin atau bom bunuh diri yakni silent army atau pasukan tidur. Strategi ini suatu saat bisa dibangunkan dan ini bisa sangat berbahaya.

“Yang bangunin ya seperti Noordin. Nah ini yang harusnya bisa dilacak,” pungkas dia.(*/okezone)

KOMENTAR