Takengon – Kualitas kopi Arabika produk petani dataran tinggi Gayo (Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah) belum seragam, sehingga mempengaruhi jumlah produksi dan harga di pasaran lokal dan luar negeri.

Peneliti kopi dan penyuluh pertanian Wiknyo di Takengon, Kamis, menyatakan, belum seragamnya kualitas kopi Arabika tersebut karena varietas yang ditanam masyarakat daerah ini cukup banyak, yakni ada 15 varietas.

Dalam kondisi seperti ini, katanya, petani tidak bisa disalahkan karena hingga kini di Aceh Tengah dan Bener Meriah belum pernah ada kebun induk kopi yang bisa dijadikan sumber bibit bagi keseragaman kualitas hasil produksi.

Menurut dia, tidak seragamnya jenis kopi produk petani di daerah itu, juga berpengaruh pada rendahnya produktivitas dan pemasaran di dalam dan luar negeri. “Berdasarkan data produktivitas kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah hanya 600-700 Kg/ha. Padahal produksi ini masih bisa dinaikkan hingga mencapai 3 ton/ha/tahun,” ujarnya.

Wiknyo memberi solusi mengatasi persoalan tersebut dengan cara Pemkab melalui dinas terkait menetapkan dulu varietas mana yang cocok dan berharga dipasaran lokal dan internasional. “Setelah pohon induk dipastikan, baru dikembangkan secara besar-besaran dengan klonal (sistem sambung). Bibit itu kemudian digunakan bagi pengembangan kopi di masa mendatang,” kata Wiknyo.

Beragamnya varietas kopi, menurutnya juga menyebabkan rasa kopi yang dijual tidak seragam, sehingga harganya tidak stabil dan bahkan cenderung fluktuatif karena kualtas berbeda. “Padahal kopi Arabika Gayo dikenal dengan aroma dan rasanya yang khas. Rasa asam yang spesifik seharusnya membuat kopi itu harganya lebih tinggi,” demikian Wiknyo.(ant)

KOMENTAR