Pembukaan Aceh International Rapa'i Festival 2016 (Foto Wanda Haris Purnama)
Pembukaan Aceh International Rapa'i Festival 2016 (Foto Wanda Haris Purnama)
Pembukaan Aceh International Rapa'i Festival 2016 (Foto Wanda Haris Purnama)
Pembukaan Aceh International Rapa’i Festival 2016 (Foto Wanda Haris Purnama)

DUA kontingen asal Malaysia dan Cina, akan meramaikan hari kedua digelarnya Aceh International Rapa’i Festival 2016, Sabtu (27/08/2016) di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.

Festival budaya Aceh berkelas internasional ini akan berlangsung di tiga tempat yaitu Taman Ratu Safiatuddin, Museum Tsunami, dan Taman Budaya. Perhelatan yang pertama kali digelar dan akan menjadi even tahunan ini terbuka untuk umum. Aceh International Rapa’i Festival 2016 digelar selama 5 hari, 26 hingga 30 Agustus mendatang.

Kadisbudpar Aceh, Reza Fahlevi yang didampingi Kabid Pemasaran, Ramadhani dalam keterangan persnya menyebutkan, ada kontingen dari lima Negara Asia akan ikut memeriahkan even ini. Kelima Negara tersebut masing-masing Jepang, Malaysia, Thailand, Cina, dan Iran.

Papar Reza di hari pertama festival ini, telah disuguhkan penampilan budaya nusantara dari Sumatera Barat yaitu Palito Nyalo, performa budaya lokal Aceh, Rapa’i Pulot Grimpheng dari Kabupaten Bireuen, juga menampilkan budaya internasional yang dipersembahkan Obsolutely Thai-Thailand.

“Akan hadir grup dari Thailand Absolutely Thai pada malam hari di Taman Ratu Safiatuddin, sedangkan Fieldplayer dari Malaysia, dan Miladomus dari Cina, kedua negara ini akan tampil di Museum Tsunami pada Sabtu (27/08/2016) sore pukul 16.40 WIB,” sebut Reza.

Lanjutnya, bagi masyarakat Minang Kabau yang ingin menyaksikan kembali performa budaya nusantara dari Sumatera Barat, Palito Nyalo bisa menyaksikannya pada pukul 17.20 WIB di Museum Tsunami.

“Malamnya setelah pembukaan oleh Gubernur Aceh, dr H. Zaini Abdullah, budaya nusantara dari Sumatera Barat, Palito Nyalo tampil pada pukul 22.04 WIB di Taman Ratu Safiatuddin dan besoknya dapat disaksikan kembali pada pukul 17.20 WIB di Museum Tsunami,” ujar Reza.

Reza menyebutkan, tujuan dari penyelenggaraan even tersebut antara lain untuk melestarikan rapa’i sebagai salah satu atraksi budaya yang menarik untuk dikunjungi dan dinikmati. Selain itu, katanya, tujuan kegiatan ini juga sebagai sarana promosi bagi seni rapa’i itu sendiri baik untuk kalangan masyarakat Aceh, nasional,bahkan internasional.

“Ini juga untuk memperkenalkan Aceh keluar daerah, bahwa budaya-budaya Aceh memiliki kekuatan dan bernafaskan Islam. Serta sekaligus untuk membangun citra positif Aceh pasca damai,” ujarnya.

Ia berharap even ini menjadi daya tarik bagi wisatawan serta menjadi media efektif untuk memperkenalkan kekayaan dan keunikan khasanah budaya Aceh kepada masyarakat di luar Aceh, sekaligus mempromosikan Aceh sebagai Destinasi Wisata Halal melalui Branding Pariwisata Aceh yang baru dengan branding “The Light of Aceh” atau “Cahaya Aceh” yang merefleksikan semangat masyarakat disatukan dalam Syariat Islam yang Rahmatan Lil ’Alamin dengan cahaya terang benderang yang memberikan Syafa’at, kebaikan dan kemakmuran bagi semua.

“Moment ini diharapkan akan menjadi kenangan menarik dan menambah kesan sebagai daya tarik wisata tersendiri dalam memperkenalkan kekayaan dan keunikan khasanah budaya Aceh kepada wisatawan,”ujarnya.

Lebih lanjut, Reza mengakui Aceh Internasional Rapa’i Festival tahun ini merupakan yang pertama sekali diselenggarakan, jika mendapat sambutan positif dari masyarakat, pihaknya akan memasukkan kegiatan ini sebagai even tahunan Dinas Pariwisata Aceh.

Selain itu Reza juga berharap kedepan akan lebih banyak lagi peserta dari manca negara, dengan adanya promosi-promosi pasca even tersebut.

“Kita bisa lihat beberapa even besar di Indonesia itu berawal dari even kecil, nah kita berharap even rapa’i ini juga seperti itu,” demikian pungkas Reza.[]

KOMENTAR