Yogyakarta — Pimpinan pusat Muhammadiyah mengumumkan, 1 Syawal 1433 H jatuh pada Ahad kliwon (19/8). Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, penentuan tersebut berdasarkan hitungan ijtimak jelang Syawal 1 pada Jumat pon (17/08) pada pukul 22:55:50 WIB.

“Tinggi bulan pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta adalah -04° 37′ 51″ dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat terbenam Matahari tersebut bulan di bawah ufuk,” terang Agung, di kantor PP Muhammadiyah, DI Yogyakarta, Jumat (10/08).

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, dalam kesempatan yang sama, menginstruksikan khususnya kepada segenap warga Muhammadiyah serta mengajak kepada umumnya umat Islam untuk menunaikan shalat Idul Fitri 1413 H pada tanggal tersebut.

“Hindari hal-hal yang bersifat pendangkalan dalam menanamkan keyakinan, pemahaman dan amaliah Islam yang membawa kemunduran dalam kehidupan umat,” paparnya.

Ia pun mengajak umat Islam agar memperkokoh silaturahmi, uhkuwah, dan usaha-usaha kolektif untuk meningkatkan kualitas hidup sebagai wujud implementasi ketakwaan hasil ibadah puasa.

“Kepada seluruh kekuatan dan umat beragama diimbau untuk semakin meningkatkan ikatan persaudaraan, toleransi, perdamaian, dan kerja sama yang konstruktif,” tambahnya.

“Penting untuk terus diikhtiarkan bersama mencegah konflik yang mengatasnamakan atau memanfaatkan sentiment-sentimen keagamaan yang pada akhirnya melahirkan citra negatif tentang agama dan umat beragama,” terangnya.

Para elite dan pejabat negara diharapkan memelopori gerakan keteladanan dalam mempraktikkan sikap hidup jujur, terpercaya, bertanggung jawab, disiplin murni, kata sejalan tindakan, cinta rakyat, dan bermoral utama sebagai wujud iman dan takwa.

Muhammadiyah, terangnya, melihat gejala dan fakta melemahnya kedaulatan bangsa dan Negara dalam bisang ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Terdapat gejala di mana kekayaan dan kedaulatan ekonomi dikuasai kepentingan asing sehingga masih mengalami masalah kedaulatan yang serius.

“Dengan berbasis iman dan takwa yang menjadi modal kepribadian bangsa Indonesia, Muhammadiyah mendesak kepada semua pihak, khususnya, pemerintah untuk mengarusutamakan pendidikan karakter dan mengembangkan strategi kebudayaan nasional yang mengedepankan religiusitas, kemandirian, sikap moderat, jujur, dan memiliki jati diri serta harga diri bangsa yang kuat,” pesannya. (koranbogor.com)

KOMENTAR