Banda Aceh – Pemerintah Provinsi Aceh diminta mendukung program plasma nuftah sapi asli Aceh yang sedang dikembangkan di kawasan Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.

“Program plasma nuftah merupakan upaya kami menyelamatkan kelestarian brand sapi Aceh yang telah berjalan dua tahun di kepulauan tersebut, dan harapan kami adanya dukungan dari provinsi,” kata Kepala Dinas Peternakan Aceh Besar, M Yunus di Banda Aceh, Sabtu (7/8/2010).

Ia menyebutkan pada tahun anggaran 2009, sebanyak 50 ekor sapi betina asli Aceh telah disalurkan kepada masyarakat di Pulo Aceh yang dananya bersumber dari APBK Aceh Besar. Selanjutnya disalurkan sebanyak 40 ekor induk sapi betina dan 10 ekor jantan dan dananya juga dari APBK Aceh Besar 2010.

“Artinya, upaya pelestarian `brand` sapi asli Aceh itu hingga kini dananya masih bersumber dari APBK Aceh Besar. Karenanya kami berharap dukungan pengadaan induk sapi betina asli Aceh dari APBA (provinsi),” katanya menjelaskan.

Secara nasional, Yunus menyebutkan di Indonesia dikenal ada tiga jenis sapi yakni Sapi Bali, Sapi Madura dan Sapi Aceh.

“Jadi upaya kami adalah untuk melestarikan kembali sapi asli Aceh karena populasinya semakin menyusut,” tambahnya.

Dipilihnya Kecamatan Pulo Aceh sebagai lokasi penangkaran sapi asli Aceh karena geografis daerah itu kepulauan. “Artinya, karena itu pulau maka sangat mudah untuk dideteksi jika peternak akan menjualnya,” katanya.

Ia mengkhawatirkan jika tidak segera dilestarikan melalui peningkatan kembali populasi ternaknya maka dalam beberapa tahun mendatang sapi asli Aceh akan hilang. Sapi asli Aceh memiliki citra rasa khas dan digemari masyarakat meski harganya lebih mahal dibanding sapi yang dipasok dari luar.

Ketika ditanya bagaimana membedakan induk atau jantan sapi asli Aceh untuk dimasukkan ke Pulo Aceh, Yunus menyatakan petugas peternakan akan melakukan tes DNA sebelum ditangkarkan oleh pihak petani di pulau berpenduduk sekitar 4.000 jiwa tersebut.

“Sebelum masuk penangkaran di Pulo Aceh, petugas kami melakukan tes DNA untuk memastikan kebenaran dari induk atau jantan sapi asli Aceh. Selain itu, dipilihnya Pulo Aceh sebagai lokasi penangkaran juga untuk memudahkan memantau sapi dari luar masuk ke wilayah tersebut,” katanya.(*/ha/ant)

KOMENTAR