Jakarta – Rencana pemerintah menyatukan zona waktu di Indonesia mendapat tanggapan beragam. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mendukung rencana pemerintah menyatukan satu zona waktu. Namun, Agus mengingatkan kebijakan tersebut mesti dikaji secara hati-hati karena Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas.

“Indonesia yang sebegini luas dari Aceh sampai Merauke, mungkin kalau menggunakan satu zona waktu itu mesti dikaji secara hati-hati,” tutur Agus di Gedung DPR.

Mantan Dirut Bank Mandiri tersebut mengakui penerapan tiga zona waktu di beberapa wilayah kurang efektif dalam mendukung produktivitas, karena jam kerja yang kurang mendukung.

“Di Indonesia barat, khususnya di daerah Sumatera Utara atau Sumatera Barat,jamnya adalah satu jam di belakang Singapura. Istilahnya seperti kita kurang agresif menjaga produktivitas,” tandasnya.

Gubernur BI Darmin Nasution menilai ide penyatuan zona waktu sifatnya baik. “Kalau nanti jadi satu, barangkali transaksi cost-nya dan macam-macamnya akan jauh lebih murah. Kita baru melakukan kajian, tapi idenya sendiri bagus,” ujarnya.

Senada, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, jika rencana tersebut benar-benar direalisasikan, jam perdagangan bursa Indonesia akan sama dengan sejumlah pasar modal utama di Asia, seperti Hong Kong,Kuala Lumpur,dan Singapura.

“Secara geografis menjadi sama. Ini tentu menguntungkan pasar modal kita,” jelasnya. BEI sendiri telah mengkaji rencana memajukan jam perdagangan agar bisa sama dengan sejumlah pasar modal utama Asia.

Diketahui, pemerintah berencana menggunakan satu zona waktu Indonesia. Selama ini, zona waktu di Indonesia dibagi tiga, yakni Waktu Indonesia Barat (WIB),Waktu Indonesia Tengah (Wita), dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Zona waktu yang nanti dipakai adalah GMT+8 atau Wita. Dengan demikian, nantinya WIB dan WIT tidak lagi digunakan. (sindo/sm)

KOMENTAR