Banda Aceh — Setelah sukses di gelar di Malang,  Indonesia Linux Conference (ILC) 2013 dipastikan Aceh siap untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan.

Acara akbar dan pertemuan Komunitas Linux Indonesia yang dilaksanakan secara tahunan ini, selain ajang silaturrahmi pengguna sistem operasi GNU/Linux juga membahas berbagai perkembangan teknologi informasi yang berkaitan dengan open source dari berbagai perwakilan provinsi di Indonesia.

Komunitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Aceh yang menjadi panitia besar ILC 2013 pun saat ini telah mempersiapkan sejumlah kegiatan untuk mematangkan event skala nasional tersebut berlangsung sukses.

Steering Committee ILC 2013 Maulana menyebutkan, dalam rangka persiapan pertemuan tahunan pengguna Linux Indonesia di Aceh tahun depan, saat ini pihak panitia (KPLI Aceh, -red) telah merumuskan sejumlah agenda yang nantinya bisa dilaksanakan secara bertahap.

“Untuk persiapan, KPLI Aceh dan lintas komunitas baik yang berhubungan dengan IT atau non-IT kita sudah nerumuskan 13 agenda kegiatan, yang nantinya akan dilaksanakan secara estapet,” jelas Maulana kepada SeputarAceh.com, Senin (8/10).

Maulana juga merinci, sejumlah agenda kegiatan yang sudah fix untuk berjalan ke depan antara lain, seperti IT Camp, Lomba Blog se-Aceh, Seminar Nasional, Pameran Konten Lokal, Release party all distro, dan sejumlah acara lainnya yang telah disusun bersama panitia acara.

Sementara itu, sebagai bentuk persiapan lainnya KPLI Aceh juga menggalang bantuan dan koordinasi kepada seluruh komunitas yang ada di Aceh untuk dapat berkerjasama dalam menyukseskan kegiatan ILC 2013 mendatang, dengan harapan terlaksananya acara ini bisa membantu meningkatkan mutu pengetahuan tentang teknologi informasi dan pengenalan open source di Aceh.

“Saat ini kita masih butuh banyak bantuan dari teman-teman lintas komunitas yang ada, selain itu juga dukungan dari berbagai elemen dan pihak yang ada di Aceh dengan harapan nantinya atas penyelenggaraan ILC 2013 ini bisa memberikan dampak langsung terhadap pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan yang berbasis pada open source di Aceh,” ungkapnya. (*/red)

KOMENTAR