Banda Aceh — Sekretaris Daerah Provinsi Aceh Teuku Setia Budi mengatakan perlu gerakan dan kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk menyelamatkan warisan budaya dan benda-beda sejarah peninggalan masa lalu.

“Semua pihak harus memiliki kepedulian dalam upaya penyelamatan warisan budaya dan benda-benda sejarah peninggalan masa lalu itu,” katanya di Banda Aceh, Rabu (20/06).

Hal tersebut disampaikan Teuku Setia Budi usai peluncuran buku biografi berjudul “Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya”. Teuku Setia Budi meyakini masih banyak warisan budaya dan benda sejarah Aceh berusia ratusan tahun lalu yang kini belum semuanya tergali dengan baik sebagai upaya penyelamatannya.

Karena itu Sekda memberikan apresiasi kepada tokoh Aceh H Harun Keuchik Leumiek yang mengumpulkan dan mengoleksi benda-benda sejarah warisan budaya masa silam.

“Benda-benda sejarah yang dikumpulkan selama puluhan tahun itu kini masih bisa kita saksikan bersama karena tersimpan di museum pribadi H Harun Keuchik Leumiek. Apa yang dilakukan itu sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian pusaka Aceh,” katanya.

Terkait dengan buku biografi “Harun Keuchik Leumiek Penyelamat Warisan Budaya”, Sekda mengatakan sosok budayawan yang juga wartawan senior Aceh itu patut mendapat apresiasi.

“Harun Keuchik Leumiek adalah salah satu dari segelintir orang di negeri ini yang punya kepedulian terhadap warisan budaya lokal,” katanya.

Di Museum “Haji Harun Keuchik Leumiek” di kawasan Simpang Surabaya Kota Banda Aceh itu menyimpan berbagai benda sejarah, antara lain ratusan jenis perhiasan emas kuno yang umumnya merupakan perhiasan emas Aceh.

Kemudian puluhan jenis koleksi kain sutera Aceh, stempel kerajaan, Al Quran tulisan tangan yang dibuat pada abad ke-13, berbagai senjata tajam tradisional, ratusan koin kerajaan aceh, serta berbagai benda pusaka lainnya yang tidak pernah dilihat di tempat lain.

Sekda menjelaskan, pengumpulan benda-benda pusaka tersebut diperolehnya dengan cara yang tidak mudah, sebab melalui perjalanan yang melelahkan karena harus keluar masuk perkampungan hingga ke desa pedalaman di Aceh. (ant)

KOMENTAR