Bireuen — Untuk pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Bireuen, Pemda Bireuen perlu melakukan pendataan berbagai lokasi yang akan dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah nilai-nilai sejarah di Aceh.

Dalam kaitan itu seluruh elemen masyarakat mendukungnya dan menyadari akan pentingnya nilai sejarah, dan memang harus dikembangkan dan masyarakat di Bireuen tidak ada kekeliruan dalam menafsirkan tentang tempat objek wisata itu sendiri.

Masyarakat tidak perlu keliru dalam memahami menyangkut masalah wisata yang akan dikembangkan, sebab seluruh lokasi pariwisata yang akan ditata Pemkab Bireuen, seluruhnya diusahakan bernuansa Islami karena sesuai dengan daerah yang sangat kental memperlakukan syariat Islam, terlebih wilayah Kabupaten Bireuen.

Dalam catatan andalas, salah seorang peneliti dan Pengembangan Wilayah, Aceh Landscape Development Center (Aldec) Ir A Farhan Abus, ketika berkunjung ke Bireuen beberapa waktu lalu kepada andalas menyebutkan, terkait pemahanam masyarakat Bireuen tentang objek wisata yang sering memvonis negative thinking.

“Selama saya melakukan pengkajian dan penilitian di Bireuen, sebagian masyarakat mengartikan tempat wisata itu identik dengan tempat maksiat. Padahal objek wisata itu tidak demikian kenyataannya,” kata Farhan seraya menyebutkan, pemerintah melalui dinas terkait perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada warga di sekitar lokasi objek wisata yang ingin dikembangkan.

Dijelaskan Ir A Farhan Abus, sesuai dengan kultur dan norma-norma agama, objek wisata di Bireuen dapat dikembangkan melalui objek wisata yang bernuansa islami. Di mana pengelola objek wisata dapat melibatkan masyarakat setempat dengan membuat aturan, serta melibatkan unsur terkait dari pemerintahan untuk pengunjung ke lokasi tempat wisata.

Kabupaten Bireuen kata Farhan, selain memiliki kekayaan alamnya, juga mempunyai objek wisata pantai yang indah serta memiliki beragam objek wisata sejarah dan budaya di sejumlah kecamatan yang belum dikembangkan secara optimal.

“Banyak objek wisata yang seharusnya dapat dikembangkan kembali, seperti Pantai Ujong Blang, Kuala Raja, Pantai Kuala Jangka, Krueng Simpo, Cot Panglima, Situs sejarah Awe Getah, Situs Raja Jeumpa, air terjun di pedalaman Simpang Mamplam dan beberapa objek wisata lainnya,” terang Farhan.

Diakuinya, dengan adanya sarana objek wisata, hal itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar lokasi, dan dengan adanya wisatawan ke sana berarti akan menambah putaran perekonomian warga di sana.

Farhan Abus yang merupakan sarjana jebolan teknik Pertamanan IPB Bogor itu menambahkan, pemerintah Bireuen tetap komit mngupayakan meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, akibat keterbatasan penyuluhan apa yang akan dilakukan memupunyai kendala dari masyarakat itu sendiri.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda Olahraga Drs Jamaluddin SE MPd menyebutkan,  sebelumnya semasa Kepala Disdikbudpora masih dijabat Drs Asnawi MPd pihak Disdikbudpora sudah melakukan survey terhadap Barang Cagar Budaya (BCB), situs sejarah dan potensi objek wisata yang akan dikembangkan.

Menurutnya, ke depan pihaknya berupaya terus menggali potensi situs sejarah yang saat ini barangkali nyaris punah dan tidak diketahui oleh generasi penerus bangsa dan pada bulan Oktober 2012 mendatang Bireuen sebagai tuan rumah Festifal Seudati yang menunjukan khas heroisme Aceh.

Disebutkan, pihaknya prihatin dan ke depan terus berupaya mendata seluruh situs sejarah baik ulama kharismatik maupun pahlawan–pahlawan yang berjasa baik daerah maupun nasional seperti Kuburan Raja Jeumpa, Kuburan Tgk Dilapan, Tgk Chiek Peusangan dan berbagai situs sejarah lainnya yang harus diketahui oleh generasi penerus bangsa terutama yang ada di wilayah Kabupaten Bireuen. (Harian Andalas)

KOMENTAR