Meulaboh – Hari pertama Ujian Nasional (UN) sederajat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang di gelar secara serentak di Kabupaten Aceh Barat, Senin (29/3/2010) berjalan lancar. Namun dalam UN tersebut, 1 dari 3067 siswa di Aceh Barat tidak mengikuti ujian materi bahasa Indonesia, tanpa alasan yang jelas.

UN hari pertama digelar sejak Jam 07.00WIB pagi, berjalan tertib dan lancar. Namun dari sekian banyak siswa eksis ikuti UN, ada seorang Siswi bernama Rofi Nafera Siska terlihat tak hadir saat ujian Bahasa Indonesia, tanpa ada klarifikasi dari siswi dan orang tuanya.

Kepala Sekolah SMP Tiga tersebut, M. Ali S.pd mengatakan kepada wartawan, jika ketidak hadiran seorang siswinya, sampai kini belum diketahui penyebabnya. Namun dirinya mengaku telah menanyakan kebeberapa guru, bahkan, wali kelas. Namun belum ada klarifikasi tentang kealpaan tersebut, baik dari siswi, maupun dari orang tuanya.

Kelapa Sekolah mengakui, jika Pelaksanaan UN itu, sempat membuat resah para siswa, sebab ada kekhawatiran mereka takut tidak lulus dalam ujian itu. Sehingga pihak sekolah telah melakukan latihan, tray out selama tiga bulan yang lalu, guna melatih kesiapan murid-muridnya.

UN yang dilakukan  serentak ini, lancar dengan mendapat pantauan dari tim pemantau independent, dari berbagai pihak. Serta aparat kepolisian juga ikut mengamankan proses UN dengan memantau kecurangan saat pengisian jawaban di ruang ujian. Namun sejauh ini, belum ada menemukan hal-hal mencurigakan sebagai tindakan kecurangan UN.

Burhan Nuddin, seorang pemantau pada MTsN II (2) Meuleboh, asal Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat menyatakan, pelaksanaan UN tersebut harus serius dipantau agar memperkecil adanya indikasi pelanggaran dan kecurangan, mengingat pada dasarnya sangat jarang ada sekolah yang mendapatkan prestasi angka kelulusan dengan murni.

Melihat pengalaman yang lalu, lanjut Burhan Nudin, kelulusan siswa pada UN bisa dikatakan tidak terlepas dari bantuan dari oknum-oknum tertentu dari sekolahnya. Selain itu juga mengharapkan agar peroses pelaksanaan UN sesuai dengan procedural yang telah di tetapkan oleh mendiknas, dengan mengedepankan kejujuran terhadap tuntutan profesi, “Artinya ketika mengikuti UN harus ada ketegasan agar mengurangi tindak pelangaran, misalnya tidak membawa alat komunikasi (HP) saat ujian, penguanaan waktu secara maksimal, dan tetap menjaga kerahasian, serta keamanan soal dan data,” Harapnya.(*/ha/azh)

KOMENTAR