Lhokseumawe – Massa Meunasah Alue, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe mengamankan Cut Masayu, 26, yang baru seminggu mengontrak rumah di gampong itu, Selasa malam (12/10/2010). Pasalnya, warga asal Bandung itu memiliki dua suami (poliandri).

Dari informasi dihimpun, menyebutkan, rumah kontrakan yang ditempati Cut Masayu bersama suaminya yang kedua, Rusli Abdullah,48, tiba-tiba didatangi massa, Selasa sekira pukul 21.00 WIB. Beberapa saat sebelumnya, suami pertama Cut Masayu, Samsul Bahri,44, melaporkan kepada masyarakat Meunasah Alue bahwa wanita satu anak itu adalah istrinya.

“Kita langsung ke lokasi untuk mengamankan wanita tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan, karena massa sudah menyemut di rumah kontrakannya. Setelah kita minta keterangan dan terungkap bahwa benar Cut Masayu itu poliandri, maka kita memanggil aparatur Gampong Meunasah Alue termasuk pemuka adat dan pemuka agama untuk menyelesaikan kasus ini,” kata Kepala Kantor Satpol PP dan WH Kota Lhokseumawe, Azwar, kemarin siang.

Cut Masayu saat ditemui di Kantor WH, kemarin, mengatakan, dirinya menikah dengan Samsul Bahri, warga Paya Brandan, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara atas bantuan seorang kadhi liar di Sarah Teubee, Rantau Selamat, Aceh Timur pada 25 Mei 2005. Saat itu, kata Cut, dirinya menetap di Pante Ulee Lueng, Darul Imarah, Banda Aceh. Hasil penikahan dengan Samsul Bahri, Cut dikaruniai seorang anak perempuan.

“Setelah sekian lama tinggal di Banda Aceh, saya dan Samsul Bahri menetap di Medan. Di sana saya bekerja memasak pada usaha jualan nasi milik orang lain. Kemudian, saya pindah ke Buket Rata, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, bekerja sebagai tukang memasak pada usaha milik istrinya Rusli Abdullah,” kata Cut Masayu.

Cut Masayu mengaku selama enam bulan terakhir Samsul Bahri sama sekali tidak lagi menunaikan kewajibannya memberi nafkah lahir dan batin. Selama masa tersebut, ia sudah 10 kali minta cerai pada suami pertamanya itu, tapi tidak dipenuhi. Dirinya, kata Cut, merupakan istri kedua Samsul Bahri. “Karena cukup lama tidak diberikan nafkah lahir dan batin, maka pada 28 Agustus 2010 saya menerima lamaran bang Rusli Abdullah sebagai istrinya yang ketiga. Kami menikah atas bantuan salah seorang kadhi liar,” katanya.

Wanita berdarah Jawa dan Padang ini menyatakan bersedia kembali kepangkuan Samsul Bahri dengan catatan suaminya yang pertama itu meneken surat perjanjian tidak akan menyianyiakannya lagi. “Samsul Bahri juga telah menyatakan bersedia menerima saya jika Rusli Abdullah menceraikan saya,” kata wanita asal Bandung ini yang mengaku memakai nama ‘Cut’ karena menyukai panggilan tersebut.

Di Kantor WH Lhokseumawe, kemarin, Cut Masayu tampak akrab bersama istri kedua Rusli Abdullah. Antara Samsul Bahri dan Rusli Abdullah juga terlihat akur. Pemandangan ini membuat pihak WH hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum menahan rasa geli.(ha/nsy)

KOMENTAR