London — Puluhan ribu warga Inggris menyerukan kepada pemerintahnya, Jum’at (9/11), untuk mencalonkan Malala Yousufzai, seorang gadis Pakistan yang ditembak kepalanya oleh Taliban sebagai penerima Penghargaan Nobel Perdamaian.

Gadis berusia 15 tahun ini menerima perawatan khusus di kota Birmingham, Inggris, setelah kelompok bersenjata menembaknya, 9 Oktober lalu, karena menentang Taliban dan secara terbuka menganjurkan pendidikan bagi perempuan.

Jumat, sebuah kampanye yang dipimpin oleh seorang perempuan Inggris keturunan Pakistan menyerukan Perdana Menteri David Cameron dan pejabat tinggi pemerintah untuk mencalonkan Yousufzai meraih Nobel Perdamaian.

“Malala tidak hanya mewakili para perempuan muda, ia juga berbicara untuk semua yang ditolak untuk mendapatkan pendidikan hanya karena gender mereka,” kata pemimpin kampanye Shahida Choudhary dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan platform petisi global, Change.org.

Lebih dari 30.000 orang telah menandatangani petisi di Inggris sebagai bagian dari dukungan global oleh para penganjur hak azasi perempuan untuk mencalonkannya mendapatkan penghargaan. Kampanye serupa juga ada di Kanada, Prancis dan Spanyol.

Menurut aturan Panitia Nobel, hanya tokoh-tokoh utama seperti anggota dewan nasional dan pemerintah yang bisa mencalonkan seseorang.

Bangkit Lagi

Ayah Malala, Jumat, mengatakan ia akan “bangkit lagi” untuk mengejar cita-citanya setelah perawatan rumah sakit. Ziauddin Yousufzai dan anggota keluarga lain tiba di Inggris, Kamis, untuk membantu pemulihannya.

“Mereka ingin membunuhnya. Tapi ia hanya jatuh untuk sementara. Ia akan bangkit lagi. Ia akan berdiri lagi,” katanya kepada wartawan dengan suara penuh emosi.

Malala telah menjadi simbol perlawanan yang kuat terhadap upaya Taliban menolak pendidikan perempuan. Kemarahan rakyat di Pakistan atas penembakannya menambah tekanan terhadap militer untuk melancarkan serangan terhadap kelompok radikal tersebut.

“Ketika ia jatuh, Pakistan berdiri… inilah titik baliknya,” kata ayahnya. “(Di) Pakistan untuk pertama kalinya… semua partai politik, pemerintah, anak-anak, orang tua mereka menangis dan berdoa kepada Tuhan.”

Taliban mengatakan mereka menyerangnya karena ia menentang kelompok itu dan memuji Presiden AS Barack Obama.

Malala yang ceria dan bercita-cita menjadi seorang politikus, mulai berbicara keras melawan Taliban Pakistan ketika ia berusia 11 tahun, saat ketika pemerintah secara efektif menyerahkan kekuasaan kepada kelompok militan tersebut. Ia kritis sejak kelompok bersenjata menembaknya di kepala dan leher saat ia keluar dari sekolahnya di Swat, barat laut Islamabad.

Ia masih berisiko mendapat serangan lagi jika kembali ke Pakistan, di mana pemberontak Taliban mengeluarkan ancaman kematian terhadap dirinya dan ayahnya sejak ia ditembak.

“Sebuah keajaiban bagi kami,” kata ayahnya. “Ia pernah dalam kondisi yang sangat buruk…. kini ia pulih dengan kecepatan yang memberi harapan.”

Para dokter di Inggris mengatakan Malala memiliki peluang besar untuk sembuh di unit khusus rumah sakit, yang hali dalam menangani kasus-kasus trauma kompleks. Rumah sakit ini telah merawat para tentara yang terluka di Afganistan.

Dave Rosser, direktur medis rumah sakit, mengatakan ia akan cukup kuat untuk pulang ke Pakistan dalam beberapa bulan ke depan tapi belum jelas apakah keluarganya akan memilih melakukan itu.

“Ia menunjukkan perhatian besar untuk mengejar ketinggalan pelajarannya,” katanya.

Ayah Malala mengatakan ia dan keluarganya menangis ketika mereka akhirnya bertemu kembali dengan gadis itu, Kamis.

“Saya mencintainya dan tentu saja tadi malam ketika saya bertemu dia ada tangis di mata kami dan itu tangis kebahagiaan,” katanya, sambil menambahkan Malala telah meminta ayahnya membawa buku pelajaran dari Pakistan sehingga ia bisa belajar.

“Ia mengatakan kepada saya di telepon, tolong bawakan saya buku-buku Kelas 9 dan saya akan berusaha mengerjakan ujian,” katanya. “Kami sangat bahagia… saya berdoa untuknya.”

Penembakannya adalah puncak dari kampanye bertahun-tahun melawan salah satu panglima Taliban paling kejam, Maulana Fazlullah.

Fazlullah dan pasukannya menguasai Lembah Swat tempat tinggal Yusufzai dan menghancurkan sekolah-sekolah untuk perempuan dan secara terbuka mengeksekusi orang-orang yang dianggap amoral. Namun, serangan militer di Swat berhasil mengusir para pejuang Taliban. (Reuters)