30 ikon kuliner Indonesia (tourismnews.co.id)SEBANYAK 30 kuliner tradisional terpilih menjadi ikon kuliner Indonesia. 30 ikon terpilih setelah melewati diskusi yang panjang yang melibatkan sejumlah ahli boga dan juga sejumlah juru masak di Indonesia, antara lain seperti William Wongso dan Chef Bondan Winarno.

Menparenkaf Mari Elka Pangestu mengaku, ia banyak menerima protes dari sejumlah daerah yang kulinernya tidak terpilih sebagai ikon kuliner Indonesia.

“Banyak yang protes kenapa daerah saya tidak masuk, ya kalau ada 340 kabupaten kan ya gak mungkin kita ambil semua. Sekarang ini yang kita lakukan yang baru memilih 30 ikonik kuliner nasional,” ujarnya di Kudus, beberapa waktu lalu.

Karenanya ia mendorong setiap propinsi juga memiliki makanan tradisional daerahnya yang bisa menjadi ikonik daerahnya tersebut. Jumlahnya tidak harus banyak tapi bisa beberapa tapi sudah sangat mencirikan sebagai makanan khas daerahnya itu.

Adapun 30 ikon makanan terbaik di seluruh Indonesia itu antara lain Asinan Jakarta, Tahu Telur Surabaya, Soto Ayam Lamongan, Rawon Surabaya, Gado-gado Jakarta, Urap Sayuran Yogyakarta, Orak Arik Buncis Solo, Nasi Liwet Solo, Sate Lilit Bali, Pindang Patin Palembang, Nasi Goreng Kampung dan lainnya.

Mari Elka Pangestu menjelaskan ada tiga kriteria untuk menentukan 30 ikon kuliner Indonesia.

“Pertama, makanan ini harus disukai banyak orang di Indonesia, karena tujuan kami bukan mempromosikan ‘ini lho makanan yang terbaik dari daerah ini’, makanan ini harus disukai banyak orang sehingga rasanya tidak boleh terlalu aneh,” katanya.

Kriteria kedua, bahan baku pembuatannya seperti bumbu-bumbu harus mudah didapatkan dimana saja. “Karena kita membayangkan kita akan membawanya ke mancanegara,” ujarnya.

Ketiga yaitu, yang terpenting adalah mencerminkan warisan budaya Indonesia itu. Setiap makanan yang menjadi ikon harus memiliki ceritanya masing-masing yang mencerminkan budaya tanah air.

Sulit Mendunia

Sementara itu Mari juga mengaku, para juru masak tanah air belum memiliki pemahaman tentang standarisasi pengolahan kuliner tradisional Indonesia. Sehingga membuat kuliner kita kalah saing dengan kuliner negeri tetangga seperti Thailand yang sudah lebih dulu mendunia.

“Belum adanya pemahaman chef mengenai standarisasi dalam mengolah makanan tradisional. Bagaimana menyeseuaikan resep itu dengan bahan baku yang ada jadi harus tahu taste-nya ya,” kata Mari.

Dia mencontohkan, misalnya seperti ketika memasak rendang yang benar-benar sesuai resep aslinya. Maka bahan baku santan adalah harus berasal dari kelapa yang tua. Ini yang menurut Mari sering terabaikan karena ketiadaan bahan baku.

Karenanya, dia mengaku, kementriannya dalam waktu dekat akan mengirim sejumlah juru masak yang sudah sangat ahli memasak kuliner Indonesia ke lima negara.

Tujuannya untuk mengajarkan chef-chef Indonesia yang tengah berada di sana dan juga perwakilan negara kita tentang pemahaman tersebut. Yaitu dengan berpatokan pada standarisasi bahan baku dan pengolahan yang yang termuat pada 30 Ikon Kuliner Indonesia

Hambatan lainnya, yaitu belum banyaknya rumah makan atau restoran masakan asli Indonesia yang ada di luar negeri.

Mari mengaku untuk membangun usaha kuliner di luar negeri memang sangat sulit. Selain harus memenuhi sejumlah syarat usaha di negara tersebut, modal atau investasi yang besar juga harus menjadi perhatian utama.

Soal dukungan pemerintah, menurut Mari, sangat penting. Ia mengaku negeri tetangga seperti Thailand dan Malaysia berhasil membawa kulinernya ke dunia internasional karena mendapat dukungan dari pemerintahnya. Misalnya dukungan untuk membuka sejumlah restoran di luar negeri.

Mari mengatakan masih butuh waktu yang cukup lama untuk makanan tradisional Indonesia menjadi primadona internasional. Ia tidak menyebutkan berapa persisnya waktu yang dibutuhkan, tapi ia berkaca pada Thailand yang kini masakan tradisionalnya sudah melanglang dunia. (*/inilah)