Salah satu bekas bioskop Garuda Theater di Banda Aceh (Ist)

Salah satu bekas bioskop Garuda Theater di Banda Aceh (Ist)“KAMI disini kurang hiburan, tidak tahu harus kemana jika mau nonton,” mungkin sebagian dari Anda pernah mengeluh seperti itu atau setidaknya pernah mendengar teman Anda berkomentar seperti itu. Lalu apa hubungan dengan hiburan dan bioskop? Jawabannya adalah tentu berhubungan pastinya.

Sejak digelindingkan oleh media lokal isu bioskop beberapa waktu lalu, memang luar biasa mencuat. Apalagi orang yang dimintai keterangan adalah orang nomor satu di ibukota Provinsi Aceh, yakni Bapak Wali kota Banda Aceh.

Serta merta beberapa berita selanjutnya pun turut mengiasi media daring, dan yang tidak ketinggalan suara rakyat yang haus akan hiburan juga menjadi sajian utama untuk diberitakan secara detail dan unik tentunya. Walaupun pada akhirnya berujung pada akses agama, syariat, dan warga.

Lalu kembali lagi pada topik hiburan tadi, apa betul salah satu hiburan itu bioskop? Anda tentu bisa menjawabnya. Jika iya, mengapa wacana ini timbul tenggelam, sekitar 2009 hal serupa pernah mencuat terkait adanya film fenomenal layar lebar Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang berhasil menyihir penonton seantero nusantara, kemudian menyusul di 2011, dan terakhir ini pada awal-awal tahun 2013 ini.

Hmm, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan-lahan dan setelah itu baru bisa ketahuan sejauh mana hiburan ala bioskop itu dibutuhkan. Tanpa harus mengaitkan dulu dengan artibut WH, mesum, maksiat, dan lainnya.

Warkop yang menjamur, penampilan kesenian dan musik setiap minggu, dan masih banyak agenda kreatif lainnya di Banda Aceh yang dibuat dan dipersembahkan oleh generasi muda itu sendiri, rasanya-rasanya itu bukan lagi menjadi hiburan. Atau bisa jadi, hiburan itu harus bersifat konser band, sepak bola semisal Piala Gubernur (hiburan olahraga?), atau ada lainnya.

Dan bicara tentang investor lokal untuk bagian urusan bioskop di Indonesia ini memang masih bisa dihitung jari, seperti Cinema 21 dan XXI, The Premiere serta Bliztmegaplex, tentu tidak mudah juga investor asing seperti Lotte Cinema masuk ke Indonesia untuk menyediakan layanan hiburan ini, karena salah satunya telah masuk dalam kategori DNI (Daftar Negatif Investasi).

Bisnis Layar Lebar

Saat ini di Indonesia tercatat (data 2012) ada sekitar 152 sinepleks dengan total 672 layar untuk 237 juta penduduk Indonesia.

Sementara itu data dari Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Badan Pusat Statistik (BPS) sempat mengungkapkan ada 10 dari 33 provinsi (sebelum ada penambahan 1 provinsi baru Kalimantan Utara) yang tidak memiliki bioskop.

Adapun 10 provinsi tersebut adalah Aceh, Kepulauan Bangka-Belitung, NTB, NTT, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Dari 498 kota atau kabupaten di Indonesia, 443 atau 89 persen di antaranya tidak punya bioskop.

Melihat data di atas tentu pemain-pemain besar punya lahan basah untuk meraup kembali rupiah di 10 daerah di Indonesia, dan termasuk salah satunya Aceh dengan target Banda Aceh.

Sebelumnya, seperti kata Pak Wali kota Banda Aceh pihak Cinema 21 sempat menawarkan investasi untuk mendirikan bioskop di Banda Aceh, jauh sebelumnya itu pada tahun 2012 pihak Cinema 21 juga telah menargetkan ekspansi pembukaan bioskop baru di Papua, Sumatra Barat dan Sulawesi Tengah, hingga kini belum ada kabarnya.

Selain itu, dari hasil diskusi dan baca-baca di berbagai status atau dinding Facebook beberapa waktu lalu tentang pengadaan bioskop salah satu warga Palembang juga menyebutkan potensi bioskop disana kini sudah mulai terlihat sepi oleh pengunjung.

Tentu menarik ditinjau juga, kalau seandainya nanti di Banda Aceh punya izin mendirikan bioskop atau pun ada investor yang tertarik untuk membangun bioskop, berapa tahun butuh waktu untuk mengembalikan modal? Karena yang kita ketahui tren dan teknologi yang digunakan bioskop saat ini pun sudah berubah, sebut saja yang dulu masih terkenal dengan proyektor analog kini seiring perkembangan berganti menjadi proyektor digital yang harganya pun tidak tanggung-tanggung berkisar USD 150.000 per unit dan masih banyak pertimbangan lainnya.

Kesimpulannya, wacana bioskop yang berdalih kurang hiburan atau kembali pada investor yang siap bertaruh untuk mendapatkan uang? semoga saja win-win solution dan rakyat pun senang dengan hiburan. Wallahu’alam[]

KOMENTAR