Replika pesawat RI-001, pesawat pertama sumbangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (8/4). (ANTARA/Ampelsa)
Replika pesawat RI-001, pesawat pertama sumbangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (8/4). (ANTARA/Ampelsa)
Pameran Perangko Penerbangan Nasional RI (dgi-indonesia.com)
Pameran Perangko Penerbangan Nasional RI (dgi-indonesia.com)

HARI ini tepat peringatan hari ulang tahun (HUT) TNI Angkatan Udara (AU) ke 67 dan dengan itu pula diperingati sebagai Hari Penerbangan Nasional. Artinya, tentara dengan semboyan ‘Sayap Pelindung Tanah Airku’ itu sudah berusia separuh abad lebih, seumuran republik ini. Kelahiran AU dimulai dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945.

Sayang, untuk memperkuat armada udara saat itu republik ini masih kekurangan pesawat terbang dan fasilitas lain. Beberapa waktu kemudian BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945. Pasukan udara ketika itu bernama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Maka pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapus, lalu diganti dengan nama Angkatan Udara Republik Indonesia, dan hari itu kini diperingati sebagai hari kelahiran TNI AU.

Sejarah perjuangan AU tidak melulu berkaitan dengan perjuangan fisik, tetapi mereka juga memiliki peran dalam perjuangan diplomatis. Misalnya menyiapkan angkutan pesawat perintis untuk mengangkut barang, pasukan, para diplomat, saudagar, hingga mengantar Presiden Soekarno keliling ke daerah-daerah.

Orang sudah banyak tahu kisah heroik Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani, dan Kadet Sutarjo yang berhasil menerbangkan dua pesawat Cureng dan Guntei. Dengan dua pesawat itu para kadet mengebom dan meluluh lantakan lokasi pertahanan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Tetapi bagaimana dengan peran mereka dalam perjuangan diplomatis?

Replika pesawat RI-001, pesawat pertama sumbangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (8/4). (ANTARA/Ampelsa)
Replika pesawat RI-001, pesawat pertama sumbangan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan di lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Senin (8/4). (ANTARA/Ampelsa)

Perjuangan diplomatis TNI AU tidak akan lepas dari peran sarana pesawat terbang. Nah, salah satu perjuangan AU ketika itu ialah melalui kegiatan penerbangan RI-002, nama pesawat jenis angkut sedang pertama yang di sewa pemerintah RI dari veteran penerbang Amerika Serikat.

Dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, disebutkan bila pesawat RI-002 ini milik seorang veteran penerbang Amerika Serikat bernama Robert (Bob) Earl Freeberg.

Sebetulnya pesawat ini adalah pesawat bekas ‘war-surplus’ dari Pangkalan Udara Clark di Philipina, yang dibeli sekelompok kecil penerbang Amerika, hasil patungan seharga U$D 10 ribu. Berkat jasa Bob, pesawat ini bisa diterbangkan ke Indonesia sebagai sarana pengangkutan barang dan jasa.

Dua tahun paska kemerdekaan, pemerintah RI membutuhkan penerbang asing yang sanggup menerobos blokade Belanda. Dengan perantara seorang warga Birma bernama Savage, Bob Freeberg berkomunikasi dengan Opsir Udara III Muharto dan Dick Tamimi. Kesimpulanya Indonesia membutuhkan kegiatan angkutan udara, dan Bob menjadi pilot pesawat perintis pertama di Indonesia.

Bob menerbangkan pesawat dari Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta pada 1947 dengan rute tujuan pertama kali ke Singapura, melalui Bukittinggi. Dari Singapura dia kembali ke Manila, Pilipina, untuk mengambil pesawat miliknya, Douglas C-47 Skytrain atau RI-002, yang telah disetujui akan disewa pemerintah RI. Pesawat itu diambil secara diam-diam.

Awalnya kawan-kawan Bob tidak setuju, sehingga pesawat disembunyikan. Bob kebingungan, berusaha mencari, hingga akhirnya ketemu. Dia lalu membawa dua orang ‘flight-engineer’ kebangsaan Pilipina terbang ke Indonesia pada malam hari dengan dalih mengadakan uji terbang ‘test-flight’. Ternyata itu sebuah tipu muslihat.

Maka, pada malam itu juga, Bob membawa pesawat R1-002 plus dua engineer ke Pangkalan Pesawat Terbang Maguwo, Yogyakarta. Itulah kisah RI-002, pesawat perintis pertama yang disewa pemerintah RI dari pilot Amerika. (*/merdeka.com)

KOMENTAR