Lhokseumawe, Seputar Aceh – Hujan yang turun dalam dua hari terakhir membuat sejumlah kawasan di Aceh Utara dilanda banjir, Sabtu (21/11). Sekolah terpaksa diliburkan akibat genangan air.

Sampai Sabtu sore, gerimis masih turun di sejumlah daerah di Aceh Utara. Kondisi itu membuat warga khawatir karena ketinggian air semakin meningkat. “Kami sudah siap-siap untuk mengungsi,” ungkap Kepala Desa Rayeuk Panga Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Abdul Wahab.

Banjir membuat hubungan transportasi antarkecamatan terputus. Warga terpaksa menggunakan jasa rakit untuk melintas dengan biaya Rp5.000 per sepeda motor. Di lokasi terlihat dua unit rakit bambu dioperasionalkan para pemuda setempat.

Untuk melewati Kecamatan Pirak Timu, warga harus melintasi jembatan gantung yang kondisinya sudah keropos. “Kami sudah mengajukan permohonan pembangunan jembatan baru sejak tahun 1980. Tapi tidak ada perhatian,” ungkap Abdul Wahab.

Jembatan Panga sepanjang 100 meter tersebut sudah beberapa kali menelan korban jiwa akibat terjatuh. “Saya berinisiatif memperbaiki dengan uang pribadi. Menghabiskan sampai Rp500 ribu,” ujar Ismail Usman, ketua pemuda setempat.

Banjir juga membuat sejumlah sekolah terpaksa libur. Muhammad Akbar, pelajar kelas empat SD 6 Matangkuli, mengaku sekolah diliburkan. Ketinggian air di sekolahnya mencapai 1,5 meter.

Sekolah yang terletak di dekat aliran sungai tersebut, setiap musim hujan menjadi langganan banjir.

Seorang petani Desa Cibrek Kecamatan Matangkuli, Badli, mengaku sekitar dua maah atau 3.200 meter persegi sawahnya yang sudah dipanen membusuk direndam banjir. “Padahal, padi saya itu tinggal diangkat ke lumbung,” ujar Badli.

Ketua PMI Matangkuli, Usman Nur, mengatakan sekitar 14 desa di kecamatan tersebut direndam banjir. [sa-ayi]

KOMENTAR