Booming E-Commerce Asia TenggaraSEJUMLAH Toko-toko ritel Asia Tenggara sebaiknya waspada, lantaran perusahaan e-commerce sebentar lagi berpotensi merebut pangsa mereka.

Pendapatan peritel tradisional mulai berkurang mengingat konsumen Asia Tenggara sekarang lebih memilih situs e-commerce, demikian menurut studi terbaru UBS.

Menurut kepala riset dan strategi UBS di Thailand, Raymond Maguire, penetrasi Internet di Asia Tenggara lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Angkanya pun akan meroket berkat bertambahnya pengguna smartphone berharga rendah dan ketersediaan koneksi mobile untuk mengakses Internet.

Hal tersebut mengancam peritel tradisional. Rasio antara kunjungan konsumen Asia Tenggara ke peritel online dan peritel tradisional telah mencapai 41:1, padahal masih ada hambatan seperti sistem logistik ritel yang tidak memadai dan terbatasnya pemakaian kartu kredit. Peritel online pun telah merebut pangsa pasar peritel tradisional. Mereka akan lebih menjamur seiring dengan peningkatan jumlah pengguna Internet, tulis Maguire dalam laporan yang dirilis bulan lalu bagi klien UBS tersebut.

“Keseimbangan kekuatan telah condong ke platform online,” kata Maguire. “Peritel tradisional harus memperkuat strateginya.”

Maguire mengatakan Asia Tenggara belum memiliki peritel online besar yang berani merusak struktur harga. Meski demikian, menurutnya Lazada–toko mirip Amazon milik Rocket Internet—telah populer di banyak negara Asia Tenggara. Maguire juga mencatat beberapa perusahaan mulai merambah kawasan ini, seperti raksasa e-commerce Cina, Alibaba, dan peritel online terbesar di Jepang, Rakuten.

Belanja online di Asia Tenggara hanya menyumbang 0,2% dari semua penjualan ritel saat ini. Meski demikian, jika naik sampai 5%, pasarnya dapat bernilai sekitar $21,8 miliar. Untuk perbandingan, e-commerce di Cina menyumbang 8% dari total penjualan ritel di negara Tirai Bambu itu.

Maguire mengklaim ini adalah riset peritel online pertama di Asia Tenggara. Ia menganalisis lalu lintas pengunjung dari 10.000 situs ritel paling populer di satu negara dengan memakai algoritma data besar. Ia mendapati kunjungan ke situs-situs e-commerce lebih tinggi ketimbang ke situs peritel tradisional, yang hanya mencakup 2,4% dari total kunjungan.

Maguire menyamakan Asia Tenggara saat ini dengan Cina 2006-2008. Saat itu, penetrasi Internet naik lebih dari dua kali lipat seiring dengan makin banyaknya konsumen membeli PC yang dilengkapi koneksi broadband. Ini memicu kebangkitan beberapa perusahaan e-commerce besar.

Sekitar 199 juta orang Asia Tenggara kini terkoneksi ke Internet, kata Maguire. Angka ini lebih tinggi ketimbang perkiraan perusahaan riset pasar comScore tahun lalu yang hanya 62 juta orang.

Maguire memprediksi jumlah pengguna Internet di Asia Tenggara membengkak 48% menjadi 294 juta orang dalam waktu tiga tahun. Sementara itu, penetrasi Internet di seluruh Asia Tenggara saat ini sebesar 32% dan akan naik jadi 48% pada 2017, prediksinya. (wsj)

KOMENTAR