Jakarta — Ekspansi dilakukan PT Jasa Marga (Tbk) tahun ini juga. Setelah membeli saham pengelola tol Cinere-Jagorawi dari Waskita Karya, Jasa Marga mulai mengembangkan infrastruktur jalan tol di Sumatera.

Sebelumnya, Kementerian BUMN bersama gubernur se-Sumatra bersepakat membangun jalan tol dari Utara-Selatan Sumatra. Untuk langkah awal, di gagas kesepakatan (MoU) tiga gubernur, yaitu Sumatera Selatan, Riau dan Sumatera Barat.

Pembangunan jalan tol ruas Trans Sumatera akan membelah Bukit barisan Selatan yang membentang sepanjang Sumatera. Pembangunan tol Sumatera Aceh-Lampung ini akan memakan kawasan hutan yang sudah habis di Pegunungan Bukit Barisan Selatan.

Selama program digagas untuk kebutuhan masyarakat terutama ketersediaan pangan dan infrastruktur, Menko Perekonomian Hatta Rajasa pernah berucap, itu akan jadi prioritas Kabinet Indonesia Bersatu II.

Karenanya, Kementerian Kehutanan sebagai pihak penyedia ruang (kawasan hutan) mendukung pengembangan tol Aceh-Sumatera Selatan itu. Terlebih Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan didapuk menjadi Ketua Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Koridor Sumatera.

Dinyatakan Dirjen Planologi Kemenhut Bambang Soepijanto Kemenhut siap membantu tentunya Jasa Marga dan pihak terkait memenuhi prosedur penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan non kehutanan. “Karenanya skema pinjam pakai kawasan hutan harus ditempuh Jasa Marga,” jelas Bambang.

Ia menambahkan selama areal hutan yang diminta melewati hutan produksi, izin pasti bisa dikeluarkan. Namun jika pembangunan jalan tol itu memasuki kawasan konservasi atau Taman Nasional, maka Kementerian Kehutanan akan mengkaji terlebih dulu.

“Ada pertimbangan dan kajian teknis sebelum izin keluar jika melewati hutan konservasi atau taman nasional,” jelas Bambang. (harianterbit.com)

KOMENTAR