Dukung Visit Aceh 2013

Wisatawan di Aceh (Serambi Indonesia/BUDI FATRIA)Banda Aceh — Persiapan tahun kunjungan ke Aceh atau Visit Aceh 2013 dinilai belum maksimal terlihat dari banyaknya kawasan tujuan wisata yang belum dibenah, selain itu upaya Pemerintah melibatkan pihak swasta dalam pengembangan pariwisata masih minim.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Aceh Dahlan Sulaiman yang melihat masih banyak yang harus dilakukan untuk menghadapi program pariwisata Visit Aceh 2013, sehingga Pemerintah perlu bekerja keras dengan membangun sinergitas dengan pihak swasta.

Dia menilai Pemerintah perlu menggencarkan lagi promosi visit Aceh, karena selama ini gaungnya terkesan hanya di tingkat lokal. Kegiatan besar yang sudah dipersiapkan pada tahun depan harus mampu menarik minat turis asing datang ke Aceh.

“Jangan yang datang hanya orang sekitar saja. Sekarang kan begitu, Pemerintah buat event besar terus ramai yang datang, dianggap sukses. Padahal kalau kita cek yang datang itu hanya dari Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie,” jelas pemilik biro perjalanan itu, Kamis (13/12).

Menurutnya, masih banyak destinasi wisata yang harus dibenah oleh Pemerintah di Aceh. Salah satunya Makam Abdurrauf As Sangkili atau Teungku Syiah Kuala di Dayah Raya, Banda Aceh. Makam ini hanya terpaut puluhan meter dari pantai dan sempat diterjang tsunami pada 2004.

Namun, kawasan ini tidak terawat, bahkan telrihat gersang, hanya ada sebuah balai pengajian dan toilet yang jauh dari bersih. Tidak ada arena khusus bagi anak-anak dan tulisan perjalanan sejarah tentang sosok Syiah Kuala.

Padahal, paparnya, Syiah Kuala (1615-1693M) merupakan ulama besar yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Semasa hidup, Abdurrauf pernah dinobatkan sebagai mufti Kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan Ratu Safiatuddin (1641-1675M).

Selain masyarakat lokal, penganut tarekat Syattariah di Sumatera Utara rutin bertandang ke Aceh setiap tahun untuk menggelar ritual adat dan agama. Makam Syiah Kuala juga sering dikunjungi turis-turis dari Malaysia, Brunai Darussalam, dan negara-negara Arab.

“Seharusnya digarap maksimal. Ini sebuah destinasi wisata yang menjanjikan. Syiah Kuala ini ulama yang sangat disegani di luar, orang luar membaca cerita sejarahnya kemudian berkunjung ke sini. Sampai di sini tidak ada sesuatu yang di dapat, kecuali batu nisan,” jelas Dahlan.

Meski nama Syiah Kuala lebih dikenal luas dibanding Wali Songo, Dahlan menilai, Makam Wali Songo di Pulau Jawa jauh lebih terurus dan menarik di mata wisatawan ketimbang Makam Syiah Kuala di Aceh.

“Makam Wali Songo dengan taman yang luas, ada masjidnya ada kolam yang ada ikan hiasnya. Aceh tidak ada seperti itu. Pembenahan terhadap objek wisata yang berkaitan dengan sejarah Islam ini penting, mengingat wisata religi menjadi salah satu andalan Aceh,” lanjutnya.

Selama ini objek wisata religi masih belum begitu diperhatikan. Dahlan mencontohkan lagi Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di tengah Kota Banda Aceh. Banyak pengunjunga yang sering memprotes kebersihan toilet.

Selain itu, destinasi wisata di Pulau Sabang hingga sekarang dinilai belum digarap maksimal. Contoh lain, jelasnya, Kawasan Nol Kilometer, di mana pengunjung hanya menemukan tugu dan hutan yang tidak terawat.

“Seharusnya di lokasi itu harus ada pelayanan sertifikat bagi setiap orang yang sudah pernah singgah di sana, yang menandakan bahwa seseorang sudah pernah ke titik nol Indonesia. Berada di Nol Kilometer itu sebuah kebanggaan bagi orang-orang dari luar,” tambahnya.

Selain itu pantai-pantai di Aceh Besar seperti Lhok Nga, Lampuuk, Ujong Bate dan Pasir Putih sampai kini belum memiliki fasilitas memadai. Padahal dari segi pemandangan sangat memanjakan mata.

“Pantai Lhok Nga, Lampuuk dari dulu-dulu seperti itu-itu saja, kenapa tidak dibenah yang begini-begini. Kami meminta pemerintah melibatkan swasta dalam mengembangkan pariwisata, karena dalam hal ini peran swasta yang sangat penting,” ujarnya. (bisnis.com)

KOMENTAR