Kolombo — Kekerasan etnis anti-Muslim semakin meningkat di Srilanka setelah sekelompok rahib Budha memimpin ratusan orang menyerbu dan merusak toko pakaian milik seorang pria muslim. Insiden ini menyebabkan ratusan orang cedera di Kolombo, ibukota Srilanka, pada Kamis (28/3) malam.

“Aksi ini memicu ketakutan di kalangan orang muslim. Kami tahu bahwa mayoritas orang Budha tidak mendukung serangan ini,” ujar N.M. Ameen, Pimpinan Dewan Muslim Srilanka, sebuah kelompok payung untuk kelompok Islam.

Serangan itu dilakukan ratusan orang dari etnis Sinhala yang mayorias dan dipimpin para rahib Budha. Mereka menyerbu sebuah toko Fashion Bug di Pepiliyana, Kolombo, dan membakarnya sebelum melarikan diri.

Menurut saksi mata, aparat keamanan hanya berdiri saja dan menonton insiden itu. Setelah kerusuhan mulai menyebar, mereka baru mencoba mengendalikan situasi. Dalam insiden itu, beberapa orang muslim cedera. Namun tak seorang pun pelaku yang ditangkap.

“Kami telah mengerahkan unit tambahan STF (Komando Pasukan Tugas Khusus) dan polisi untuk berjaga-jaga di lokasi. Situasinya kini sudah terkendali,” ujar jubir kepolisian, Buddhika Siriwardena.

Sekalipun polisi tidak menyebutkan motif serangan, sejumlah sumber mengatakan bahwa serangan itu ditargetkan pada bisnis milik orang muslim dan dilancarkan oleh kelompok garis keras etnis Sinhala beragama Budha.

Dua pekan lalu, sebuah kelompok garis keras Budha yang disebut “Bodu Bala Sena” atau kekuatan Budha, menyerukan penghancuran sebuah masjid yang dibangun abad ke-10 di Kuragala.

Seruan untuk penghancuran masjid kuno itu dikeluarkan tak lama setelah kelompok itu berkampanye menentang makanan halal di Srilanka. Akibatnya, orang muslim terpaksa meninggalkan logo halal guna meredam ketegangan dengan mayoritas Budha.

Permohonan umat Islam kepada presiden untuk perlindungan bukanlah yang pertama kalinya. Sejak beberapa bulan terakhir, Dewan Muslim Srilanka meminta presiden untuk mempertimbangkan kembali permintaan mereka untuk meredam peningkatan gerakan ekstremis anti-muslim di negara itu.

Masyarakat muslim mendesak presiden untuk secara terbuka mengutuk kampanye kebencian yang digaungkan para ekstremis Budha. Orang muslim juga menyerukan kesetaraan hak untuk semua warganegara dan meminta presiden untuk memerintahkan polisi agar segera bertindak untuk menghentikan segala gangguan terhadap minoritas dan tempat usaha mereka.

Komunitas muslim di Srilanka kini hidup ketakutan sejak beberapa bulan terakhir di tengah meningkatnya kampanye kebencian yang dipimpin kelompok ekstrem Budha.

Orang muslim di Srilanka dikenal dengan nama orang Moor. Mereka termasuk kelompok etnis ketiga terbesar setelah etnis Sinhala yang mewakili 70 persen populasi dan etnis Tamil yang mewakili 12,5 persen.

Srilanka diguncang ketegangan menyusul berbagai serangan yang dilakukan kelompok ekstrem Budha terhadap orang muslim. Pada Juni tahun lalu, sekitar 200 demonstran yang dipimpin belasan rahib Budha menyerang sebuah masjid di Dehiwala, pinggiran Kolombo. Sambil melempar batu dan daging busuk ke pintu gerbang, mereka meneriakkan slogan penutupan masjid.

Pada April tahun lalu, sekelompok rahib Budha mengganggu salat yang sedang berlangsung di sebuah masjid di Desa Dambulla. Para pelaku mengklaim masjid yang dibangun pada 19612 sebagai tempat ilegal. (harianterbit.com)

KOMENTAR