Seputaraceh

Muhasabah Akhir Tahun dengan Perbaikan, bukan Tiup Terompet

Muhasabah Akhir Tahun dengan Perbaikan, bukan Tiup Terompet
Muhasabah Akhir Tahun dengan Perbaikan, bukan Tiup Terompet

mesjid raya baiturrahmanBanda Aceh — Bermula dari perintah agar kita bertaqawa kepada Allah dengan taqwa yang benar, dan meninggal dalam kondisi muslim, maka setiap muslim mesti memuhasabahkan diri setiap saat, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan saban akhir tahun, sebelum hembusan nafas terakhir.

“Untuk bisa mewujudkan hasrat agar mati dalam keadaan muslim, ialah dengan perbaikan amal setiap hari, dan dengan mengevaluasikan apa yang telah dikerjakan sebelumnya, serta memperbaikin amal selanjutnya,” jelas DR. Aslam Nur, MA, dalam khutbah Jumat (21/12).

Lanjut Aslam yang juga dosen Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry Banda Aceh mengatakan, bahwa mengenang dan menyahuti akhir tahun dengan introspeksi diri, bukan dengan meniup terompet. Terompet itu muasalnya dari budaya Yahudi, untuk menghalau jemaatnya agar sembahyang, yang dilanggengkan oleh Romawi, dan diinpor oleh anak kita. Jangan beri kesempatan masuki awal tahun 2013 dengan tiupan benda murahan itu. Hadits Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa meniru gaya suatu kaum, maka dia termasuk kaum itu.”

Aslam yang juga Imam Masjid Taqwa Muhammadiyah dan Pengurus PW Muhammadiyah Aceh itu, juga mengulang kisah Nabi Musa as dan Bani Israil dalam Al-Qur’an.

Tatkala Bani Israil diselamatkan pascapenyeberangan Laut Merah, dari kejaran Fir`aun, mereka menyaksikan satu kaum yang menyembah berhala (benda-bendaan). Lalu mereka merengek pada Nabi Musa agar Nabinya mau membuat patung seperti kaum itu, untuk mereka sembah. Lantas Nabi Musa menjawab, “Alangkah bodohnya kamu!”

“Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang telah menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”.” (QS. 7:138)

“Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. 7:139)

“Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Ilah untuk kamu yang selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.” (QS. 7:140)

Begitulah jika manusia hidup bersama orang jahil dan menyaksikan sembahan dan tradisinya, ia juga akan terpengaruh dengan tabiat kaum yang disaksikaannya.

Padahal kaum Bani Israil yang tersisa bersama Nabi Musa itu menyembah Allah yang Esa, tapi bisa terkecoh dengan budaya kafir, karena pembauran dan pembiaran dalam waktu yang lama. (KemenagNews)

Belum ada komentar