Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh telah menyatakan PLTD Apung sebagai salah satu situs sejarah peninggalan tsunami, yang menjadi andalan untuk menghidupakan perekonomian masyarakat Aceh khususnya yang tinggal di Banda Aceh.

“Kami sangat yakin situs ini akan menjadi andalan Pemko untuk menghidupkan perekonomian masyarakat,” ujar Penjabat Walikota Banda Aceh, T Saifuddin, kepada wartawan usai melakukan soft launching PLTD Apung menjadi objek wisata, Rabu (4/4).

Menurutnya, kehadiran lokasi wisata tersebut akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu juga dapat mengembangkan industri pendukung seperti masyarakat sekitar dapat berjualan di sekitar situs tersebut.

“Keberadaan lokasi wisata PLTD Apung tidak hanya akan mendongkrak PAD Kota Banda Aceh, namun juga dapat mendongkrak perekonomian warga di sekitar lokasi objek tersebut,” imbuhnya.

PLTD Apung sendiri merupakan objek yang paling diminati wisatawan dalam dan luar negeri, yang ingin melihat kapal tersebut. Untuk itu, Dinas Pariwisata dan dinas terkait lainnya harus memanfaatkannya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Dalam mengembangkan objek wisata di Banda Aceh, saya meminta Dinas Pariwisata untuk melibatkan masyarakat yang tinggal di dekat lokasi tersebut. Dengan demikian akan tercipta lapangan kerja baru yang berdampak pada peningkatan pendapatan,” sambung Saifuddin.

Selain itu, kapal yang terdampar di kawasan pemukiman masyarakat ini dapat dijadikan pusat edukasi tsunami. “Pemko hanya perlu melakukan perbaikan palka kapal. Kita akan menjadikan palka kapal yang dulunya berisi mesin pembangkit listrik, menjadi sebuah ruang galeri atau ruang cineplex yang dapat memutar film-film dokumenter dan edukasi tsunami,” jelasnya.

Dengan fasilitas tersebut., pengunjung bisa melihat bagaimana gambaran saat terjadinya bencana dasyat tsunami di tahun 2004 lalu. Namun ide ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, terutama dukungan dari Kementerian ESDM.

“Kalau hanya kita suguhkan bangunan kosong tanpa disuguhi atraksi dan penjelasan yang baik, maka sangat sulit kita maksimalkan kompleks ini sebagai sebuah kegiatan wisata yang bermanfaat bagi masyarakat,”ujarnya. (dedi irawan/mbd)

KOMENTAR