Sungai Sawang (Medan Bisnis/Sugito Tassan)

Sungai Sawang (Medan Bisnis/Sugito Tassan)Aceh Utara — Ada sejumlah obyek wisata alam yang sangat prospektif di Kabupaten Aceh Utara, bahkan bisa menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat, seperti Sungai Sawang di Kecamatan Sawang yang letaknya sekitar 30 km dari Kota Lhokseumawe. Namun potensi yang bisa dijadikan kawasan wisata arung jeram tersebut terabaikan.

Bukan tidak mungkin, jika Sungai Sawang dikelola dengan baik dan dijadikan obyek wisata terbuka untuk umum, bisa mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat terutama yang tinggal di sepanjang sungai tersebut.

“Sungai Sawang begitu indah, biasanya akan memancing adrenalin pegiat arung jeram. Sungainya berbatu-batu dan memiliki arus deras, hanya saja hingga saat ini lokasi itu dibiarkan tanpa ada yang mengelola,” ungkap salah seorang tokoh pemuda setempat, Matrawi kepada MedanBisnis, Kamis (13/12) lalu.

Di sisi lain, masyarakat masih enggan membuka akses terhadap obyek wisata itu dengan alasan khawatir terjadi maksiat. Karena anggapan mereka, jika sudah terbuka untuk umum paling tidak pengunjung yang datang tidak hanya dari Aceh tapi juga luar Aceh, sehingga bisa mengganggu adat istiadat lokal yang identik dengan nuansa Islami.

Pemerhati wisata Aceh, Mouludi menegaskan, Pemerintah Aceh harus segera melahirkan blue print bagi wisata religius.

“Jangan tersembunyi pelarangan wisata itu di balik pelaksanaan syariat Islam. Islam tidak anti dengan keindahan, justru bagaimana potensi wisata yang sangat besar di Aceh dikelola dengan nilai-nilai syariat sehingga memiliki ciri khas dibanding daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu harus ada blue print terhadap wisata religius tersebut,” katanya di tempat terpisah.

Dia melanjutkan, perubahan budaya pasti muncul, dan hal itu sebagai konsekuensi terhadap dinamisasi kehidupan sosial masyarakat modern.

Menyangkut Sungai Sawang, dia pun berpendapat, jika dijadikan obyek wisata arung jeram bukan akan menarik manusia dari berbagai latar belakang berdatangan di lokasi itu.

“Makanya jika ada perubahan kehidupan masyarakat, kita tidak perlu alergi asalkan semangat mempertahankan wisata religius tetap dikedepankan,” ucapnya. (medanbisnisdaily.net)

KOMENTAR