Mekkah — Anjuran agar jamaâh calon haji berusia lanjut didampingi saat berada di Tanah Suci kelihatannya masih banyak diabaikan. Keadaan ini memungkinkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan seperti yang menimpa Saheri Faramata (76 tahun), jamaah haji khusus asal Wajo, Sulawesi Selatan. Ia ditemukan tersesat di halaman Masjidil Haram, Ahad (7/10) dini hari.

Saheri, yang berangkat dengan travel dan biro perjalanan PT Rihlah Alatas Wisata, ditemukan petugas sektor khusus Masjidil Haram. Kepala Seksi Pelayanan Ibadah Haji Khusus Matyuri Casdui Salamun, yang dihubungi Harian Terbit mengatakan,Saheri tersesat di Masjidil Haram karena tertinggal rombongannya.

Petugas haji Indonesia membawa jamaah yang sudah sepuh itu ke kantor Misi Haji Indonesia daerah kerja Makkah. Setelah diketahui identitasnya, langsung diantar ke pemondokkan di Grand Zam Zam hotel berbintang dekat Masjidil Haram. “Setiap hari, ada puluhan jamaah calon haji yang tersesat di Masjidil Haram,” katanya.

Selain Saheri pada Ahad (7/10) sore atau sekitar pukul 21.00 waktu Indonesia, juga dilaporkan satu orang jamaah calon haji Rosna Siregar bt H Mhd Soleh (45) asal kloter 4 Medan wafat di Tanah Suci Makkah.

Rosna wafat, saat dirawat di Rumah Sakit Pemerintah Kota Makkah akibat gangguan sistem sirkulasi. Dengan demikian, jamaah yang meninggal di Tanah Suci hingga kemarin petang sudah 19 orang.

Belum Siap

Dari Jeddah dikhabarkan, Kepala Daerah Kerja Jeddah Ahmad Abdullah, usai meninjau persiapan hotel transit bagi kepulangan jamaah haji usai wukuf nanti, mengatakan, lima hotel yang akan digunakan masih ada belum siap. Maksudnya, satu dari lima hotel yang akan dipergunakan belum memuaskan.

“Memang masih ada waktu satu bulan, jadi nanti kita lihat lagi apakah mereka siap atau tidak menerima jamaah kita,” kata Abdullah, usai meninjau Palace Hotel di Jeddah.

Bila tidak lanjutnya, akan diusulkan untuk diganti. Hal tersebut sudah dilaporkan ke Kantor Teknis Urusan Haji tentang kondisi satu hotel itu.

Daker Jeddah mengusulkan untuk mengganti sebuah hotel transit karena pelayanannya mengecewakan.

“Jamaah mengeluh, petugas hotel malas dan tidak membersihkan kamar pada setiap pergantian jamaah yang menginap,” kata Abdullah. Dengan keluhan itu lanjutnya, penggunaan hotel tersebut dihentikan meskipun sudah berjalan dua minggu.

Sementara pada saat mengunjungi Madina Palace Hotel, dia merasa puas karena bersih dan tempatnya strategis. Posisinya berada di jalan besar dari arah Makkah. Selain itu,sopir bus mudah mencarinya dan jarang tersasar. Madina Palace adalah salah satu hotel yang sering digunakan Indonesia di samping Norcom Hotel.

Dijelaskan, Madinah dan Norcom sudah digunakan sejak lima tahun lalu. Madina Palace memiliki 260 kamar dengan daya tampung 1500 jamaah sementara total jamaah yang akan menginap selama masa kepulangan sekitar 30.000. Norcom Hotel juga akan menampung total 30.000 jamaah selama masa kepulangan.

Sebelumnya, Abdullah meninjau Al-Muchtara Koraish Hotel dan Al-Mahmal Palestine Hotel, Abddullah cukup puas karena kondisi kedua hotel dan kamar cukup bagus. Mahmal Hotel berlantai enam dengan 120 kamar dan berdaya tampung 750 orang, sedangkan Muchtara Hotel berlantai lima dengan jumlah kamar 192 dan berdaya tampung 960 orang.

Satu hotel lagi, yakni Tayar Hotel masih dalam tahap perbaikan sehingga belum bisa dilihat kondisi ruangannya.

Disiapkan 5 Hotel

Pada tahun 2012 ini, Daker Jeddah menyiapkan lima hotel untuk transit atau lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang berjumlah 11. “Kita memilih lima hotel yang berdaya tampung besar dibanding tahun lalu sebanyak 11 hotel tetapi kecil-kecil dan menyulitkan pelayanan, dan kurang efektif serta sulit berkoordinasi,” kata Abdullah.

Saat kepulangan nanti Daker Jeddah akan terdiri dari dua sektor, yakni sektor yang melayani bandara dan sektor yang melayani jamaah di hotel transit. Total keloter yang melalui Jeddah Daker Jeddah saat kepulangan sebanyak 378 dengan sekitar 150.000 jamaah. (harianterbit.com)

KOMENTAR