Jakarta – Pemerintah akan menjaga defisit anggaran pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2011 sebesar Rp115,7 triliun. Jumlah ini turun Rp18,1 triliun atau sekitar 13 persen dari target defisit anggaran dalam APBN-Perubahan 2010 sebesar Rp133,7 triliun atau 2,1 persen terhadap produk domestik bruto.

“Target defisit ini 1,7 persen terhadap PDB,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat Pidato Kenegaraan di depan Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta, Senin 16 Agustus 2010

Dia mengatakan, penurunan defisit anggaran ini, berkaitan dengan arah kebijakan konsolidasi fiskal dalam rangka mewujudkan anggaran yang lebih sehat dan berimbang. Defisit yang terlalu tinggi, makin meningkatkan utang kita di atas rasio yang aman, dan akan membebani pemerintahan yang akan datang.

Untuk membiayai defisit anggaran itu, pemerintah akan menggunakan sumber-sumber pembiayaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Langkah itu dilakukan dengan tetap berorientasi pada pembiayaan yang stabil dan berkelanjutan, serta beban dan risiko seminimal mungkin.

Sumber utama pembiayaan dalam negeri, akan tetap berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), sedangkan sumber pembiayaan luar negeri akan berasal dari penarikan pinjaman luar negeri, berupa pinjaman program dan pinjaman proyek.

Dengan langkah-langkah itulah, pemerintah mengupayakan terjadi penurunan rasio utang pemerintah terhadap PDB dari sekitar 27,8 persen pada akhir 2010 menjadi sekitar 26,0 persen pada akhir 2011.

Penurunan rasio utang pemerintah terhadap PDB, diharapkan dapat memperkuat struktur ketahanan fiskal kita, sejalan dengan tujuan Pemerintah untuk mencapai kemandirian fiskal yang berkelanjutan.

“Inilah bagian dari upaya kita untuk memelihara ketahanan ekonomi,” katanya. (*hs/vvn)

KOMENTAR