Banda Aceh — Kawasan dataran tinggi Gayo, yakni Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, identik dengan tanaman kopi. Produksi tanaman primadona daerah ini bahkan sudah mendunia, tidak kurang 80 persen mata pencaharian masyarakat ‘Negeri Kayangan’ itu bergantung dari tanaman kopi.

Gayo memiliki lahan kopi produktif hingga mencapai luas areal 29 hektare lebih. Nah, di balik luasnya lahan dan sumburnya tanaman kopi telah menghasilkan produksi tidak kurang dari 19.867,48 ton kopi per tahun.

Namun dibalik meningkatnya produksi kopi, masih ada sebagian kecil warga yang mencoba peruntungan dengan bertani tanaman lain, salah satunya budidaya tanaman buah apel.

Sekarang tanaman apel per batang juga dapat menghasilakan buah rata-rata sekali panen 15 sampai 20 kg.“Memang untuk saat ini, hasil panen belum mampu mencukupi kebutuhan konsumen.

Jangankan untuk dipasarkan, memenuhi permintaan warga di sini saja terkadang kurang. Karena buah apel sangat diminati warga,” ujar salah seorang petani apel, Siswanto (53), di Kampung Despot Linge, Aceh Tengah, Kamis (02/08).

Menurutnya, bertani apel saat ini memiliki peluang yang cukup menggiurkan, karena harga jualnya juga terbilang lumayan, mencapai Rp 25.000 hingga 27.000/kg.

“Saat ini saya memiliki lima varietas apel yang telah dibudidayakan dan bibitnya saya bawa langsung dari Malang, Jatim. Dan saya perhatikan perkembangannya jauh lebih baik di Takengon ini. Mungkin iklim, alam dan kondisi tanahnya sangat cocok,” papar Siswanto yang mengaku sudah sejak 2005 mencoba secara mendalam bertanam apel.

Siswanto pun berhasil mengembangkan budidaya apel hingga mampu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Akhirnya, pria transmigran asal Batu. Malang, ini malah sudah mendapat julukan juragan apel.

Sempat Ragu

Awalnya, menurut Siswanto, warga di kampung tempat tinggalnya meragukan usaha yang dia coba. “Masyarakat di sini dulunya ragu, karena dasarnya kopi lah tanaman utama di sini Namun setelah melalui uji coba, apel juga mampu tumbuh subur di sini, seperti halnya kopi,” tuturnya.

Bahkan, katanya lagi, apel yang ia tanam lebih baik kualitasnya dari apel yang pernah dia kembangkan waktu masih di Malang.

“Jadi saat ini sudah 200 batang apel yang saya budidayakan di pekarangan rumah, dan per batang mampu menghasilkan 15 sampai 20 kg,” katanya.

Selain itu, apel ini juga terkadang kerap dipesan para pegawai dari dinas-dinas yang berada di seputar Kota Takengon. “Adakalanya pegawai dinas datang langsung untuk membeli buah apel, sekaligus memetik sendiri buah yang siap panen,” ungkapnya.

Lima jenis varietas apel yang dikembangkan Siswanto, yakni apel mana lagi (berwarna hijau kuning), apel ana (merah), apel Australia (hijau), apel rumbiuty (setengah merah setengah hijau), dan apel wanglin (hijau kasar).

“Bila menanam apel, yang perlu diperhatikan ketinggian tanah dari permukaan laut. Tanaman apel akan tumbuh baik jika berada di ketinggian 1.200 meter. Di Tanah Abu, Despot ini, kami perkirakan memiliki ketinggian 700 sampai 1.400 meter dari permukaan laut.

Jadi sangat ideal untuk tanaman apel,” terang Siswanto yang mengaku memahami ilmu pertanian apel secara otodidak sejak usia 14 tahun. Bahkan berkebun apel juga merupakan mata pencaharian keluarganya secara turun temurun di Malang.

Namun, Siswanto menyebut harga bibit lumayan mahal. Hal itu disebabkan masih sulitnya mendapatkan bibit apel di sini.

“Harga bibit mencapai Rp 50.000 sampai Rp 75.000 per polibek. Tingginya harga merupakan kendala bagi petani di sini untuk mengikuti jejak saya bertani apel.

Namun kami telah mengajukan proposal ke Pemerintah Aceh,” pungkas Siswanto. (Medan Bisnis)

KOMENTAR