© Zulkifli - Harian Aceh

Tumor mata ganas telah merenggut sebagian dari cita-cita bocah ini. Sejak tiga tahun ini ia pun dinyakan putus sekolah. Tanpa pendidikan. Adalah: Samsul Amri, 10, bocah asal Desa Cot Ara, Kecamatan Baktia Barat, Aceh Utara yang harus menanggung beban itu.

“Setiap tiga pekan sekali anak saya harus menjalani kemotheraphy ke Rumah Sakit Adam Malik, Medan, Sumatera Utara. Jika terlambat sehari saja, maka bola mata anak saya akan kembali keluar dan membesar dengan warna merah menyala,” kata Ramlah, 33, ibu kandung Amri yang sehari–hari bekerja sebagai buruh tani kepada Harian Aceh, Sabtu (3/4).

Tidak hanya itu, lanjut dia, selain membesar seperti bola kasti, ia mengaku jika terlambat dikemotheraphy, Amri juga sering menangis dan merintih karena harus menahan sakit yang tidak terkira. Dan, jika itu terjadi, Tamlah mengaku hanya bisa pasrah tanpa mampu berbuat banyak mengingat biaya operasional ke Medan cukuplah besar. “Untungnya untuk biaya pemeriksaan dan theraphy masih bisa gratis karena saya memiliki Jamkesmas. Namun untuk menebus obat tetap butuh biaya. Apalagi dalam sekali penebusan obat mencapai Rp800 ribu per bulan,” tutur Ramlah, didampingi suaminya, Mukhtar, 37.

Ia menjelaskan, pengobatan rutin ini telah dijalani anaknya selama delapan bulan terakhir dengan total kemotheraphy sebanyak 14 kali. “Kata dokter, sebelum operasi pengangkatan tumor dilakukan, anak saya harus menjalani ’kemo’ selama enam hingga delapan siklus terlebih dahulu,” sebutnya.

Ia mengaku, selama menjalani pengobatan, banyak perkembangan yang ia dapat lihat dari anaknya, seperti bobot tubuh yang sebelumnya susut hingga 15 kilogram, selama di ’kemo’ naik menjadi 25 kilogram.

Selain itu, bola mata yang tadinya keluar sebesar bola kasti, kini telah mengecil dan masuk kembali ke dalam kelopak mata. “Mungkin jika dilihat dari sisi negatifnya, hanya kepala Amri yang kini terlihat plontos karena rambutnya berguguran. Namun, kata dokter setelah ’kemo’ mencapai siklus akhir, maka rambut itu akan kembali tumbuh seperti sedia kala,” jelas Ramlah.

Menurut dia, dokter juga menyatakan, tumor mata yang diderita Amri dipicu karena ia sering mengkonsumsi makanan siap saji, terutama jenis mie instan. Sedangkan faktor lainnya, karena ia sering memasak lauk nasi dengan menggunakan vetsin (penyedap masakan).

Dengan melihat selebaran hasil pengobatan yang diberikan pihak rumah sakit, Ramlah mencoba memaparkan secara jelas tentang penyakit tumor ganas yang diderita anaknya. Sesuai hasil yang dikeluarkan Sub Bagian Hemato-Onkologi FK USU/ RS HAM pada awal pemeriksaan, hasil CT Scan yang dikeluarkan 21 Agustus 2009 lalu, menunjukkan bahwa Amri menderita Massa maligna bulbus oculi kanan ukuran 6x8x12 m dengan penebalan meter. Ekstra oculi dan optikus, tulang – tulang dinding kavum orbita kanan intak. Dan ditemukan metastase sel kumor ganas yang kian berkembang biak.

Kepada Harian Aceh, Ramlah mencoba mengisahkan kronologis awal penyakit mematikan itu yang bermula tiga tahun lalu. Saat itu, anaknya baru pulang berenang di aliran air irigasi dan itu memang biasa dilakukannya bersama teman sebayanya. “Saat pulang, saya melihat mata Amri berwarna kemerahan, saya menduga itu karena kemasukan air. Lagi pula ia mengatakan tidak ada rasa sakit,” imbuhnya

Namun anehnya, sebut Ramlah, setelah semakin lama, warna mata Amri terus berubah hingga akhirnya menyerupai mata kucing. Tepat setahun setelah itu, bola mata mulai membengkak dan Amri pun mulai mengeluhkan rasa sakit di bola matanya.

Bermodalkan uang seadanya, Ramlah lalu memboyong anaknya berobat ke Rumah Sakit Umum Cut Mutia, Buket Rata, Lhokseumawe. “Saat itu pihak rumah sakit menyatakan Amri menderita tumor. Namun untuk mengetahui ganas atau jinak, pihak rumah sakit merujuk pengobatan selanjutnya ke RS Adam Malik,” pungkas Ramlah.

Sejak saat itu, nasib anaknya kian tidak jelas dengan masa depan yang mulai suram. Pasalnya, ia yang saat itu duduk di bangku kelas II SD, sudah tidak dapat bersekolah lagi karena tidak boleh kecapean. Jika tidak, besar bola mata yang keluar itu akan melebihi kepalan tangan orang dewasa.

Meski demikian, ia berterima kasih pada pihak sekolah yang masih terus peduli dengan penderitaan anaknya. Walau bukan lagi siswa sekolah itu, bantuan masih terus mengalir. Selain itu, saat awal keberangkatannya ke Medan, bantuan dana juga diberikan Pemkab Aceh Utara Rp3 juta dan Baitul Mal Rp500 ribu. “Tapi jumlah itu tidak sebanding dengan pengeluaran selama 1,5 bulan yang mencapai Rp 6 juta,” keluhnya.

Menurut Ramlah, akibat keterbatasan dana, sekitar sebulan lalu mata anaknya sempat kembali membesar layaknya bola kasti. Hal itu terjadi karena terlambat sepekan dari masa ’kemo’ yang ditentukan. Kemarin (Minggu) ia kembali berangkat ke Medan untuk kemotheraphy yang ke-15.

Kepada pemerintah dan para dermawan yang ada di Aceh, ia sangat berharap uluran tangan untuk membantu biaya pengobatan anaknya hingga operasi kelak.

“Saya ingin anak saya dapat sembuh seperti sedia kala, dan dapat kembali melanjutkan pendidikannya. Karena meski saya orang tidak berpendidikan, saya ingin anak saya menjadi orang yang sukses, sehingga tidak perlu lagi hidup di bawah himpitan ekonomi,” pungkasnya di beranda rumah bantuan dhuafa yang diterimanya tahun 2008 silam.(*/ha/zfl)

KOMENTAR