Oleh Teuku Ibnu Sina

BARU-baru ini saja kejadian heboh terjadi disalah satu SMA di Jakarta, dimana telah terjadi kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Atau kalau kita mau sedikit melihat kebelakanga (flashback) ada banyak kasus serupa yang terjadi yang umumnya dilakukan oleh senior kepada para juniornya saat masa orientasi, terutama saat masa mahasiswa.

Disini timbul pertanyaan, apakah sebegitu pentingnya masa orientasi terhadap mahasiswa baru?

Mungkin pertanyaan tersebut sering muncul dari benak pikiran para calon mahasiswa baru (Maba) seiring kelulusan dan diterimanya mereka di sebuah universitas dan mendengar akan ada kegiatan orientasi atau ospek di awal kegiatan mahasiswa baru tersebut.

Rasa cemas sesungguhnya timbul dari diri-diri mereka tentang kegiatan orientasi itu sendiri, bahkan rasa cemas itu membuat mereka untuk bertanya lebih jauh kepada teman-teman terdekat mereka yang lolos di universitas yang sama atau bahkan senior-senior yang mereka kenal di kampus tersebut. Umumnya mereka ingin mengetahui apa saja konten-konten acara yang ada pada masa orientasi yang dilakukan oleh panitia. Karena ketakutan muncul jika ada unsur kekerasan pada masa orientasi yang nantinya dapat berdampak buruk bagi peserta orientasi.

Namun sesungguhnya, masa orientasi memiliki banyak kebermanfaatan melalui bentuk nilai-nilai yang ditanamkan. Itulah yang saya rasakan saat mengikuti kegiatan orientasi saat pertama kali menginjakkan kaki di universitas. Beberapa manfaat dari masa orientasi diantaranya:

Pertama, masa orientasi merupakan masa penyesuaian yang kelak akan ditempuh selama perkuliahan. Seperti yang kita ketahui, ada pola belajar yang berbeda diantara masa-masa sekolah SMA dengan jenjang kuliah. Jika saat sekolah dulu, kita terbiasa “disuap” oleh guru dengan materi-materi pembelajaran, namun situasi berbeda akan kita temukan saat berada di bangku perkuliahan.

Pola pengajaran dosen itu sesuka hati, artinya jika mahasiswa paham atau tidak, tidak terlalu menjadi persoalan bagi si dosen. Untuk itu, mahasiswa dituntut untuk belajar mandiri karena ilmu diperkuliahan itu akan banyak didapatkan saat dia dapat mengeksplorasi ilmu yang dipelajari, baik dalam bentuk belajar mandiri, kelompok, ataupun eksperimen yang dilakukan.

Oleh karena itu, salah satu nilai yang coba ditanamkan pada masa orientasi itu adalah transisi metode belajar dari masa sekolah ke masa kuliah.

Kedua, masa orientasi merupakan masa interaksi, baik dengan teman seangkatan yang notabene sama-sama mahasiswa baru atau dengan mahasiswa lama (senior). Masa orientasi merupakan langkah dan sarana awal baik mahasiswa baru untuk dapat mengenal teman-temannya yang diharapkan dari interaksi tersebut membuat mereka dapat solid sebagai kesatuan.

Di samping itu, peran para senior yang berlaku sebagai panitia cukup signifikan sehingga mahasiswa baru dapat mengenal senior-senior mereka yang nantinya akan menjadi panutan mereka selama berkuliah.

Efek jangka panjang yang diharapkan yakni kesolidan tersebut dapat terus dipertahankan hingga nantinya ada bentuk kebanggaan dan hubungan (link) karena pernah bersama dalam satu sivitas akademika. Oleh karena itu, nilai kesolidan sebagai sebuah kesatuan coba ditanam disini.

Ketiga, masa orientasi merupakan masa dimana mahasiswa baru mengenal lingkungan kampusnya dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ada banyak unsur yang terlibat dalam dunia kampus, seperti dosen, karyawan, dan lainnya.

Diharapkan masa orientasi dapat menjadi masa perkenalan bagi para mahasiswa baru dengan unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Sehingga, nantinya nilai interkasi, komunikasi, dan kepedulian sesama juga diharapkan dapat muncul dari dalam diri para mahasiswa baru tersebut.

Masih banyak lagi manfaat-manfaat yang saya rasa berguna selama masa orientasi mahasiswa baru. Bahkan pada masa itu ingin saya rasakan tiap tahunnya, yakni dalam kapasitas sebagai panitia. Selama komitmen panitia dalam masa orientasi tidak melenceng dari nilai-nilai kemanusiaan, maka kesan buruk yang melekat pada masa orientasi dapat dihapuskan. Dan juga koordinasi birokrasi kampus, seperti dekanat maupun rektorat, tetap harus dijalin.

Karena orientasi sesungguhnya adalah bentuk penurunan penanaman nilai-nilai yang diharapkan oleh birokrasi kampus melalui organisasi kemahasiswaan. Makanya dari itu, untuk menghindari hal-hal buruk selama proses orientasi, peran birokrasi kampus sangat sakral dalam berjalannya masa orientasi sesuai yang diharapkan.[]

*Mahasiswa Teknik Komputer Universitas Indonesia, Ketua Umum SAMAN UI, Peserta PPSDMS Nurul Fikri Angkatan VI

KOMENTAR