Steve Thornton memainakn saxophone (freeportjazz.com)DAHULU festival musik jaz hanya digelar di Jakarta. Kini, beberapa daerah ikut menggelar festival serupa di antaranya Ambon Jazz Festival, Sabang Jazz Festival, Makassar Jazz Festival, Jimbaran Jazz Festival, Jazz Gunung, dan Ngayogjazz.

Pengamat musik Bens Leo mengatakan animo masyarakat daerah untuk menyaksikan festival ini sangat besar. Ini terbukti lebih dari 40 festival jaz telah digelar di Tanah Air. Indonesia menjadi negara dengan festival jaz terbanyak di dunia. Kini, jaz tak hanya digelar di gedung atau kafe, tetapi juga di pasar, lapangan, pantai, dan gunung.

Jazz Goes To Campus (JGTC) merupakan festival jaz tertua di Indonesia. Festival ini berdiri sejak 1978 oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pada 1988, untuk pertama kalinya Jakarta International Jazz Festival (Jak Jazz) diselenggarakan. Ini juga menjadi festival internasional pertama di Jakarta.

“Jadi, Jack Lesmana menggelar di teater terbuka. Saat itu banyak orang yang tidak gemar jaz menjadi menikmati dan itu semua kalangan. Tahun 1970-1980-an itu mewujudkan bahwa jaz tak hanya di ruang lingkup tertentu seperti di kampus. Dulu kan yang mulai Jazz Goes to Campus itu Chandra Darusman. Hingga sekarang acara itu berlangsung, nggak pernah berhenti,” kata Bens saat ditemui SH di Jakarta, Rabu (26/2).

Berdirinya Java Jazz Festival (JJF) pada 2005 menjadikan seni pertunjukan jaz semakin berwarna. Kini, JJF dikenal sebagai festival jaz terbesar di Asia. Musikus papan atas, seperti Stevie Wonder, James Brown, Herbie Hancock, Carlos Santana, dan John Legend pernah menjadi saksi sejarah kebesaran festival tersebut. Lebih dari 67.000 penonton menyaksikan festival tahunan ini.

“Java Jazz Festival sudah empat tahun lalu menjadi festival tingkat dunia, masuk dalam kalender internasional. Kini, setiap melihat jaz Asia, mereka (wisatawan asing-red) pasti akan melihat festival jaz di Indonesia,” ujar Bens.

Maraknya festival jaz di Tanah Air tak terlepas dari peran komunitas. Kekuatan komunitas itu yang membuat festival ini terus berkembang. “Jadi, kekuatan komunitas itu melebihi apa pun, ada saja yang menyumbang. Para musikus juga ikut menyumbang dalam perkembangan ini,” ia mengungkapkan.

Bens mengatakan ini juga tak terlepas dari munculnya Java Jazz Festival . Sejak kemunculan festival itu, beberapa daerah mulai mencoba ikut menggelar festival di daerahnya. “Java Jazz sebagai embrio munculnya komunitas jaz di daerah-daerah, yang paling menarik para musikus juga ikut membuat acara-acara jaz,” tuturnya.

Pemain bas jaz, Adi Darmawan, menganggap menjamurnya festival jaz di daerah tak terlepas dari peran Idang Rasjidi, Dwiki Dharmawan, dan Ireng Maulana. Mereka merupakan salah satu pencetus ide untuk perkembangan festival jaz di Tanah Air. “Perkembangan apresiasi musik jaz kalau aku pikir, konteks negara itu maju jika melihat seni budaya berkembang. Semakin banyak event seperti itu juga membuat kreativitas akan berkembang terus,” kata Adi kepada SH, Kamis (27/2).

Antusiasme Daerah

Antutiasme masyarakat sangat besar di daerah-daerah. Jaz sudah tak mengenal golongan dan kalangan. Bahkan, menurut Gending Djaduk Ferianto, selaku penggagas Jazz Gunung, masyarakat sekitar Gunung Bromo, Jawa Timur, juga ikut menyaksikan festival tersebut. “Jaz itu tidak hanya permainan di atas panggung, tetapi juga spirit jam session-nya antara manusia dengan manusia,” kata Djaduk Ferianto, yang sekarang namanya menjadi Gending Djaduk Ferianto, beberapa waktu lalu.

Jazz Gunung telah digelar lima kali di atas ketinggian 2.000 meter dengan latar pegunungan Bromo, Tengger, Semeru. Pada 2014 ini akan digelar pada 20-21 Juni. Sejak 2013, festival ini diadakan selama dua hari. Festival ini telah menjadi pergelaran musik bertaraf internasional yang menampilkan komposisi jaz bernuansa etnik. “Sejak 2009, Jazz Gunung telah menjadi agenda tetap festival musik jaz di Bromo. Tiga kali kami hanya menggelar selama satu hari,” Djaduk menjelaskan.

Sensasi Tersendiri

Penyanyi jazz, Sierra Soetedjo, merasakan sensasi tersendiri saat manggung di Jazz Gunung. Selain melawan dinginnya gunung, ia juga merasakan pengaruh pada suaranya. “Pengaruhnya dengan oksigen, pasti. Lalu untuk menghangatkan tenggorokan, aku minum air hangat. Aku juga mesti lebih banyak warm up,” ujar Sierra.
Musikus Dwiki Dharmawan pun ikut terlibat dalam penyelenggaraan Sabang Jazz Festival dan

ASEAN Jazz Festival. Tak hanya menampilkan musik jaz, tetapi juga musik tradisi dari daerah tersebut. “Kami harus selalu eksplorasi keragaman budaya yang ada di Indonesia. Jaz itu berkembang dengan keragaman budaya, seperti Brazilian Jazz. Itu yang dicari pasar internasional,” Dwiki menambahkan.

Saat menggelar Sabang Jazz Festival 2012, ia memadukan jaz dengan musik rapai (instrumen musik tabuh dari Aceh). Festival ini digelar tanpa dipungut biaya di tepi pantai, Sabang Fair, Sabang.

Dwiki menjelaskan munculnya ide festival jaz di daerah-daerah karena melihat di Benua Eropa banyak digelar festival musik seperti itu. “Saya kaget, ternyata di Eropa terutama di kota-kotanya, menggelar festival jaz. Ini bisa menjadi salah satu alat promosi pariwisata yang baik,” ujarnya.

Gitaris Yuri Jo mengemukakan banyak musikus asal Negeri Kanguru itu yang ingin tampil di Indonesia. “Mereka melihat perkembangan jaz di Tanah Air sangat besar. Banyak di daerah dan prestasinya meningkat. Festival jaz menjadi semakin sering di Indonesia.

Perkembangannya luar biasa,” kata Yuri yang bermukim di Brisbane, Australia.

Maraknya festival jaz juga memberi dampak positif bagi generasi muda. Menurut Adi Darmawan, beberapa musikus muda mulai bermunculan dan mendapatkan kesempatan untuk tampil. “Ada band bagus feedback-nya dua tahun atau tiga tahun kami nonton konser. Dulu aku nonton Krakatau dan Gilang Ramadhan, tetapi ternyata aku bisa manggung bersama mereka. ‘Virus-virus’ itu pasti menular,” kata Adi.

Begitu juga dengan gitaris senior, Oele Pattiselano, yang menganggap banyak anak muda mulai unjuk gigi di panggung-panggung jaz. Berbeda saat ia mulai mendalami jaz, kala itu belum banyak yang ingin memainkan jaz.

Namun, menurut Dwiki, generasi muda saat ini belum memahami blues. Kendati begitu, ia mengakui perkembangan jaz sangat besar saat ini. “Lebih banyak generasi muda. Saat zaman saya masih terbatas. Saya saja belum tamat-tamat belajar blues,” tutur Dwiki.

Konsep “Technocrea”

Di panggung lain yang lebih modern, konser jazz akan digelar di Skenoo Exhibition Gandaria City, Jakarta Selatan, pada 12 Maret 2014. Bertajuk “Sync”, konser ini mengusung technocrea, yaitu kreasi teknologi spektakuler gabungan hologram dan video mapping dalam pergelarannya.

Rinaldy Puspoyo, pendiri Full Cycle (event organizer) konser “Sync” menjelaskan kepada SH, technocrea adalah perpaduan teknologi dan kreativitas. Ini merupakan kali pertama pertunjukan musik yang mengombinasikan hologram dan video mapping. Biasanya hanya hologram atau video mapping.

Kebetulan, bertepatan dengan pergelaran musik jaz “Sync” yang menghadirkan penyanyi jaz Andien Aisyah dan Dira Sugandi. Sync diambil dari kata “sinkronisasi”, yakni sinkronisasi antara mata, telinga, dan jiwa (merasa bahagia). Pada kesempatan itu Andien dan Dira menyanyikan single terbaru mereka.

Technocrea tidak hanya diterapkan pada jaz. Rencana semula, “Sync” diadakan April 2014 bertepatan dengan Hari Kartini. Meski rencana dimajukan, konser spektakuler ini disajikan dengan penghargaan kepada perempuan-perempuan jazzy. (sinarharapan.co)