ZakiOleh: Zakiul Fahmi Jailani

‘BERMANFAAT bagi banyak orang’, itulah kira-kira arti dari bahasa Jawa ‘Migunaging Tumraping Liyan’, yang telah menjadi motto Kedaulatan Rakyat selama ini. Kedaulatan Rakyat sendiri adalah nama sebuah surat kabar di Yogyakarta yang konon merupakan koran tertua yang masih terbit hingga kini di Indonesia.

Motto itu pula yang mendasari keinginan pengurus Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta, selain dari bentuk balas kunjung TPA kepada pimpinan surat kabar yang pernah memberi bantuan untuk renovasi gedung Aula Balee Gadeng, untuk mengunjungi surat kabar yang telah berumur 67 tahun ini pada tanggal 28 April 2013 lalu.

Kesan bersahabat dan ramah tamah langsung terpancar dari para pimpinan yang rela meluangkan waktu mereka untuk bersilaturrahmi dengan mahasiswa Aceh di Yogyakarta. Tidak tanggung-tanggung, pengurus organisasi mahasiswa Aceh yang berasal dari berbagai elemen dan etnis Aceh ini disambut oleh pucuk pimpinan Kedaulatan Rakyat itu sendiri. Mulai dari Direktur Utama, Pemimpin Redaksi, hingga sekretaris dan fotografer Kedaulatan Rakyat. acara silaturrahmi ini berlangsung sangat teduh dan alot. Mula-mula pihak TPA memperkenalkan diri dan kemudian dilanjutkan oleh pihak Kedaulatan Rakyat.

Pihak Direksi Kedaulatan Rakyat cukup kenal dengan Aceh. Itu terbukti dari pengetahuan mereka tentang beberapa keunikan Aceh seperti tsunami, ‘biji Aceh’, beberapa tokoh Aceh di Yogyakarta, beberapa kota di Aceh, tempat-tempat makan Aceh terkenal di Yogyakarta hingga beberapa peristiwa sejarah Aceh.

Selain itu, jika mendengar Aceh, kini seakan-akan telah menjadi satu kata yang seksi. Satu isu yang hangat sekarang adalah tentang bendera dan merdeka. Itulah yang banyak ditanyakan oleh masyarakat Jogjakarta kepada rakyat Aceh yang tinggal di Yogyakarta. Tidak terlepas pula pengurus Kedaulatan Rakyat. Namun, pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi kewajiban rakyat Aceh untuk menjelaskannya kepada dunia wa bil khusus kepada Indonesia bahwa Aceh cinta damai adalah final. Adapun hal bendera dan sebagainya itu hanyalah perkara kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Pihak TPA sendiri mendukung adanya dialog antara semua pihak, tidak terlepas pula pihak mahasiswa untuk menyelesaikan masalah ini.

Selama ini banyak sekali berita tentang Aceh yang menjadi buah bibir di dalam masyarakat Indonesia. Mungkin ini disebabkan oleh teori bad “news is good news, good news is bad news” yang tidak bisa dipungkiri masih menjadi mainstream mindset para pelaku media di tanah air. Terlebih dari itu semua, Kedaulatan Rakyat melalui pemimpin redaksinya menegaskan bahwa teori itu telah ketinggalan zaman. Kini teori itu telah kembali kepada jalan yang sebenarnya bahwa good news is good news, bad news is bad news. Sikap KR ini terlihat dari pemberitaan mereka tentang kasus lapas Cebongan yang sangat berbeda dengan analisa tulisan media-media lain di tingkat nasional. KR pun menyadari bahwa kasus tersebut merupakan kriminal murni dan tidak ada sangkut pautnya dengan etnis tertentu. Oleh karena itulah selama ini KR tidak pernah dalam satu artikelnya pun menuliskan sesuatu yang menunjuk kepada etnis atau kelompok tertentu. KR hanya menuliskan inisial, nama atau atribut-atribut lainnya yang bersifat umum untuk kasus-kasus kriminal yang terjadi di Yogyakarta. Itulah kode etik jurnalis Kedaulatan Rakyat.

Acara silaturrahmi ini telah memberi banyak sekali kenangan dan wawasan kepada pengurus Taman Pelajar Aceh Yogyakarta. Oleh karena itu, TPA menyerahkan cinderamata sebagai tanda terima kasih telah diberi kesempatan yang sangat berharga ini. Acara pun ditutup dengan foto bersama.[]

*Mahasiswa Aceh di STMIK AMIKOM Yogyakarta dan Pengurus TPA Yogyakarta

KOMENTAR