Medan – Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Provinsi Aceh sebagian kaki gunungnya berada di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Seperti yang ada di Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Itu luasnya berkisar 22 ribu hektar. Kini TNGL dalam kondisi rusak parah.

Padahal fungsi hutan TNGL sangatlah besar. Selain sebagai taman nasional, TNGL juga berfungsi sebagai penyanggah bencana, seperti banjir dan longsor.

Rencananya Kementerian Kehutanan Republik Indonesia akan melakukan restorasi atau penghutanan kembali untuk menyelamatkan hutan dari spesies yang ada di dalamnya.

“TNGL merupakan penyanggah yang bisa menyelamatkan kita dari bencana banjir dan longsor, jadi harus diadakan penghutanan kembali,” ujar Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia, Zulkifli Hasan dalam acara Pencarian Wirausaha Muda Partai Amanat Nasional (PAN), di Hotel Asean Medan.

Berdasarkan data dari Balai Besar (BB) TNGL pada 2011, degradasi atau kerusakan lahan hutan TNGL hingga saat ini diperkirakan mencapai 143.734 hektar dari total luas 1.094.692 hektar lahan.

Dengan angka kerusakan sekitar 5 persen per tahun diperkirakan kerusakan lahan TNGL sedikitnya 600 hektar. Itu terhitung sejak tahun 1989-2009.

Menhut juga menyebutkan, saat ini sedikitnya 45 juta hektar, dari total 130 juta hektar hutan lindung di Indonesia dalam kondisi kritis.
Kondisi itu disebabkan ulah oknum nakal melalui pembalakan liar (illegal logging) juga konversi (pengalihan) lahan.

Menurut Zulkifli, kawasan yang masih dalam kondisi masih bagus kira-kira 45 juta hektar. Sisanya 45 juta hektar lainnya sudah masuk dalam kondisi kritis.

“Sisanya lagi sudah menjadi hutan yang tak berhutan,” terangnya. Sementara itu, untuk hutan yang sudah beralih fungsi (terkonversi) menjadi lahan pertanian, infrastruktur, perkebunan dan lainnya sebanyak 10 juta hektar.

Dirinya menjelaskan, tidak hanya melihat TNGL saja, tetapi Rawa Tripa yang terletak di Provinsi Aceh termasuk dalam pengawasannya. Seperti diketahui, Rawa Tripa merupakan habitatnya Orangutan dan terdapat lahan gambut, jika diganggu mengakibatkan emisi yang sangat tinggi.

“Lahan gambut sangat penting untuk kita jaga, sedangkan di tempat yang sama merupakan habitatnya Orangutan, jadi memang harus dirawat dengan baik,” ungkapnya.

Kehadiran Menteri Kehutanan di Medan ini, selain transit untuk melanjutkan perjalanan ke Aceh, juga untuk membuka seminar untuk menjadi wirausaha muda. Karena, diketahui lapangan pekerjaan di Medan dan Indonesia tidak mampu menampung para pengangguran. “Kalau tidak mampu menampung kita, mari kita menjadi wirausaha, dan kita bersedia mendukung anak muda yang bersedia untuk bekerjasama,” serunya.

Di program pencarian wiraushaa muda ini, di tiap kota akan dipilih 500 calon wirausaha untuk mengikuti pembinaan. Setelah lulus masing-masing akan diberikan pengembangan usaha sebesar Rp5 juta, usai mendapatkan verifikasi. Kota yang ikut pencarian wirausaha ini adaah Medan, Lampung, Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Makassar, Yogyakarta, Aceh, dan Jayapura. (ram/Sumut Pos)

KOMENTAR