Oleh Rizki Alfi Syahril

Ikon burung berwarna biru dan kotak kecil yang bertuliskan What’s happening? (Apa yang sedang terjadi?) telah menjadi ikon global. Itulah Twitter, salah satu jenis media sosial.

Popularitasnya menanjak bersamaan dengan maraknya penggunaan Facebook. Dari segi pemakaian dan tampilan, menggunakan twitter lebih mudah. Walaupun terbatas hanya bisa melakukan kicauan (tweet) dalam 140 karakter, twitter terbukti ampuh dalam menyebarkan serta mendapatkan informasi (baik sifatnya personal maupun publik), gagasan, cerita, opini, berita, iklan, dan kata-kata bijak atau kutipan. Orang-orang dapat dengan mudah mencari dan mengikuti (following) akun twitter milik selebritas yang diidolakan, penulis, aktivis, dosen, peneliti, wartawan, pejabat daerah, menteri, anggota dewan, produk, grup, portal berita, dsb, sesuai dengan minatnya (interest).

Linimasa (timeline) Twitter berisi kicauan-kicauan akun yang kita ikuti yang akan terus diperbarui setiap ada kicauan baru dari akun yang kita ikuti. Saat membaca linimasa, para pengguna twitter dapat membalas kicauan itu; melakukan kicauan-ulang (retweet atau disimbolkan RT); atau mengutip (quote tweet) yang akan timbul di beranda twitternya. Para pengguna akan mengikuti dan meminta akun lainnya yang memiliki minat yang sama untuk mengikuti dia kembali (follow back) atau menyebut (mention) akun lain dalam kicauan kita. Jumlah akun yang mengikuti (follower) dan akun yang kita ikuti (following) akan tampak di profil akun kita. Kita juga dapat melihat foto, video, dan percakapan langsung di twitter.

Apa yang kemudian membuat Twitter akhir-akhir ini dilarang dan ditakuti penggunaannya di beberapa negara? Jawabannya adalah kemampuannya untuk membuat topik yang tren (trending topics). Inilah perbedaan utama antara twitter dengan facebook dan media sosial lainnya. Pengguna twitter dapat melakukan kicauan, yang diberi tanda pagar (#) atau disebut juga hashtag sebelum kata atau frasa terhadap sesuatu hal yang dianggap penting maupun menarik untuk didiskusikan/diinfokan. Dengan memberi tanda itu, kata atau frasa itu akan menjadi topik dan para pengguna dapat mengikuti percakapan diskusi itu atau menemukannya di kolom pencarian (search). Kicauan ini nantinya akan dikicaukan kembali oleh akun lain yang mengikutinya atau akun lain yang memberi tanda yang sama pada kicauannya.

Hal ini akan terus menular dan menjadi efek domino sebanyak jumlah akun yang mengicaukan ulang atau menuliskan kata yang sama, sehingga akan membentuk topik yang tren. Topik yang tren akan muncul di beranda utama twitter dan membantu pengguna menemukan cerita yang paling heboh atau mengguncang dari seluruh dunia, serta topik diskusi yang paling diminati oleh pemakai twitter. Hal inilah yang kemudian mengkhawatirkan beberapa negara karena melihat efek negatif Twitter yaitu dapat membangkitkan kesadaran massa melalui topik yang tren. Hal seperti kerusuhan pascamenangnya Ahmadinejad untuk kedua kalinya di Iran, kerusuhan di Inggris, dan juga aksi Revolusi Musim Semi Arab, semuanya bermula dari diskusi dan topik yang tren di Twitter.

Twitter di Indonesia dan Aceh

Berdasarkan data Semiocast.com dan AworldofTweet.com yang dikutip Kompas.com menyebutkan bahwa hingga bulan Februari 2012 ini, jumlah pengguna Twitter di Indonesia sebesar 19,5 juta orang dan menempati posisi kelima dunia. Dalam hal kicauan, Indonesia merupakan negara yang menulis kicauan ketiga terbanyak di dunia, yaitu mencapai sekitar 12% dari total jumlah kicauan di dunia.

Tetapi, jika dilihat di lingkup Asia, pengguna Twitter di Indonesia menjadi nomor satu yaitu 54,6% dari total jumlah kicauan di Asia.
Jumlah pengguna twitter di Aceh diperkirakan semakin meningkat seiring semakin mudah dan luasnya akses internet. Diperkirakan ada puluhan ribu pengguna Twitter di Aceh yang berasal dari generasi muda menengah.

Salah satu salah satu akun twitter yang paling penting dan paling banyak pengikutnya di Aceh yaitu I Love Aceh (@iloveaceh) yang pada tanggal 23 Februari 2012 ini akan melaksanakan peringatan kedua tahun munculnya akun ini. Akun ini awalnya dibuat secara individu oleh Aulia Fitri (@hack87), yang kemudian dalam perkembangannya menjadi GroupTweet yaitu akun penyebaran informasi dari sesama pengikut untuk pengikut lainnya, dan dikelola secara bersama-sama oleh tim admin yang terdiri dari @themieracle, @citrarahman, @cutemine, @jrule, @fakhrulridha, dan @nazliza. Akun ini ditujukan untuk teumpat tanyoe sapa rakan ngon syedara (tempat kita menyapa kawan dan sanak saudara) dan para pengikutnya disebut #ATwitLovers (Aceh Twit Lovers). Akun ini memiliki visi untuk wadah komunikasi yang cepat dan tepat bagi semua #ATwitLovers. Maka dengan visi tersebut, muncul beberapa misi seperti: memberikan informasi Aceh yang sesuai pada semua #ATwitLovers; mempromosikan Aceh sebagai daerah tujuan wisata, sejarah religi, adat dan budaya, kuliner; serta menjadikan I Love Aceh menjadi pemersatu #ATwitLovers yang berada ban sigom donya. Hingga hari ini tercatat jumlah #ATwitLovers mencapai 11.000 akun lebih, dan kondisi #ATwitLovers yang aktif dalam sehari lebih dari 2.000 akun dengan minimal 5 kali perbarui (update) status dalam sehari.

Dalam perjalanan waktu, I Love Aceh ini telah melakukan banyak terobosan, tidak hanya mempromosikan Aceh saja, melainkan juga telah mengembangkan fungsi Twitter itu sendiri menjadi sarana diskusi yang dikenal #suarawarga yang kerap menjadi bagian tulisan dan dikumpulkan dalam portal iloveaceh.blog.com; ada juga #infocuaca, #infowarga, #infokuliner, #infowisata, #infoberita, foto; dan #infoevent yang dikemas dalam kalender kegiatan Aceh yang terus diperbarui setiap harinya.

I Love Aceh juga tidak hanya berkutat di dunia maya dan tidak mau disebut NATO (No Action Tweet Only), sehingga grup ini berkembang menjadi komunitas di dunia nyata dan membuat serta terlibat dalam beberapa acara seperti kegiatan amal dan sosial. Gagasan ini sama dengan aksi yang dilakukan oleh akun @IDberkebun, @BloodforlifeID, dan akun lainnya di Indonesia serta dunia yang tidak hanya aktif di twitter tapi juga di dunia nyata.

Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan komunitas I Love Aceh yaitu: kopi darat; aksi peduli Cut Ika Liana (penggalangan dana untuk operasi kanker); aksi peduli Rika Safitri (penggalangan dana untuk musibah luka bakar); Mini Pesta Blogger Aceh 2010 (acara Pesta Blogger 2010 untuk wilayah Aceh); Pray for Tangse (penggalangan dana untuk korban banjir bandang Tangse); Banda Aceh Festival 2011 (rangkaian acara Visit Banda Aceh 2011); aksi peduli Muntazar (penggalangan dana untuk penderita lumpuh layuh); Doa Bersama Aceh untuk Turki (acara solidaritas dan doa bersama masyarakat Aceh peduli Turki); “Geutangen” Wisata Rally 2011 (acara mendayuh sepeda memperingati 7 Tahun Tsunami di Aceh).

Para #ATwitLovers juga pernah bersama-sama berkicau hal yang sama dan akhirnya menjadi topik yang tren. Misalnya #AcehCoffeeFestival2011, saat penyanyi Rafly tampil di acara Harmoni SCTV, dsb. Akun ini juga didukung oleh kontributor yang tersebar di beberapa kota dan negara, yaitu di Banda Aceh (@nieafardina, @86erz, @siipesal, @fino46, @Iqbal_Mhd, @acehevent, dan @irhas_iaz); Takengon (@SyukriTakengon); Bireuen (@budi_naK_matang); Aceh Jaya (@cutmanja); Lhokseumawe (@rezapaloh); Jakarta (@wanti_one, @deni_m_abrar, dan @yulyansyah); Bogor (@anesavie); Bandung dan Depok (@infoseismic); Yogyakarta (@rizkialfi); dan Maastrcht (Belanda) yaitu @ceudah.

Dalam rangkaian peringatan ulang tahun keduanya, Komunitas @iloveaceh melaksanakan kegiatan yaitu donor Darah bersama PMI; seminar teknologi & sosial media; mengenal @iloveaceh lebih dekat; pemutaran film Cut Nyak Dhien, Stand Up Comedy, dan #2thonIloveaceh Awards. Kemunculan I Love Aceh telah menjadi komunitas tersendiri di pengguna twitter Aceh dan telah mampu menularkan gagasan positif ke beberapa kabupaten/kota di Aceh hingga muncul @ilovemeulaboh, @ilovebireuen, @ilovegayo, @iLoveTapakTuan, dan @ILoveNagan.

*Manajer Media di Komunitas Tikar Pandan, pemilik akun @rizkialfi dan aktif sebagai kontributor I Love Aceh.

KOMENTAR