Jakarta – Rupiah terkoreksi tipis terhadap dolar, Kamis (11/8). Terhadap dolar AS, rupiah turun 28 poin dari posisi Rp 8.520 menjadi Rp 8.548. Namun, pelemahan ini masih dalam kisaran terbatas.

“Penguatan mata uang rupiah pada perdagangan sebelumnya tampaknya belum stabil, sehingga pagi ini rupiah terkoreksi terhadap dolar AS, namun masih dalam kisaran yang terbatas,” kata pengamat valas dari Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta.

Untuk mencegah pelemahan lebih jauh, kata Lana, BI dapat mengintervensi dua pasar yaitu pasar valuta asing dan obligasi. Selain itu, cadangan devisa dapat digunakan untuk mengintervensi rupiah agar tidak mengalami volatilitas yang tinggi.

“Intervensi cadangan devisa ini akan menarik rupiah dari pasar. Pada saat sama bisa digunakan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN),” katanya.

Dengan begitu, BI dapat menambah aset SBN dalam neracanya dan bisa menggunakannya sebagai instrumen moneter dalam operasi pasar terbuka (OPT).

Penggunaan obligasi pemerintah sebagai instrumen OPT lazim digunakan oleh banyak bank sentral lain. Selama ini BI mempunyai instrumen OPT sendiri, yaitu sertifikat Bank Indonesia (SBI), Sertifikat Wadiah, Fine Tune Kontraksi, dan Fine Tune Ekspansi.

Analis dari Bank Saudara Tbk Rully Nova menambahkan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS hanya bersifat jangka pendek, kondisi perekonomian dalam negeri yang positif akan memicu penguatannya kembali.

“Stabilitas ekonomi dalam negeri akan menahan laju tekanan dolar AS,” ujarnya.[pelita]

KOMENTAR