Langsa, Seputar Aceh – Pemindahan pusat pelayanan Pemerintahan Aceh Timur ke Kota Idi Rayeuk saat ini belum berjalan maksimal. Dari amatan dan informasi yang dikumpulkan Seputar Aceh di lapangan, gedung sekretariat Aceh Timur di Idi rayeuk tepatnya di belakang pendopo bupati saat ini terlihat sepi dari para pegawai. Bahkan sekretariat sudah mulai kosong sejak setelah shalat dzuhur, waktu di mana jam kerja masih berlaku.

Pelayanan masyarakat lebih banyak dilakukan di kantor lama, di Kota Langsa. Kantor sekretariat di Langsa itu malah mulai dihidupkan kembali, ditandai dengan sejumlah ruangan yang dulunya kosong kini telah ditempati kembali, aktivitas pun terlihat ramai.

“Kalau pelayanan di Idi belum dapat dimaksimalkan, lebih baik jangan ada pelayanan di dua daerah sehingga menyusahkan masyarakat,” kata Ishak salah seorang warga Idi.

Ishak mengeluhkan, beberapa kali dirinya ingin mengurus keperluan administrasi dan membutuhkan tanda tangan pejabat di lingkungan pemerintahana setempat, namun pejabat yang dimaksud tidak berada di tempat.

“Ketika ditanya, bapak lagi Langsa, sesampai di Langsa lalu mendapat jawaban, bapak baru ke kantor Idi,” cerita Ishak. Hal itu tentu sangat membingungkan bagi dirinya. “Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan kalau warga yang berasal dari Lokop, jika harus bolak balik antara Idi dan Langsa,” kata Ishak.

Sementara itu, beberapa  Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Aceh Timur  yang berdomisili di Kota Langsa, mengeluhkan pemindahan pusat pemerintahan ke Idi. Hal itu dikarenakan jarak yang jauh yang otomatis harus mengeluhkan biaya transportasi yang tinggi dan tidak sesuai dengan penghasilan para pegawai itu sendiri. [sa-smi]

KOMENTAR