Banda Aceh – Ratusan guru honorer lanjutan Unicef yang telah mengabdi selama hampir lima tahun di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh tidak dimasukan ke dalam daftar pemutihan. Akibatnya tidak ada kepastian pengangkatan para guru ini dari status honorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Ketua Gerak Aktivis Muda Guru Bersatu (GAM-GB) Aceh Rakjab M. Ali mengatakan, pengangkatan ratusan guru honorer lanjutan Unicef dari Aceh Besar dan Banda Aceh ini awalnya terkendala pada penerbitan SK honor mereka.

Kata dia, guru honorer lanjutan Unicef ini di SK-kan pada 1 Juli 2005. Sementara proses pengangkatan guru honorer menjadi PNS jika berpedoman pada surat edaran kementrian negara pendayagunaan aparatur negara nomor 5 tahun 2010 tentang pendataan honorer, yang diangkat adalah honorer yang di SK-kan per-1 Januari 2005.

“Masalahnya, di kabupaten lain para guru honorer lanjutan Unicef dibantu oleh dinas untuk masuk dalam daftar pemutihan ini. Namun kenapa untuk Kota Banda Aceh dan Aceh Besar tidak bisa,” tandas dia.

Sayangnya lagi, lanjut dia, ratusan guru honorer lanjutan Unicef di kedua daerah ini sudah mengabdi jauh hari sebelum diangkat status secara legal ke guru honorer oleh Unicef pascatsunami.

“Namun hanya persoalan penerbitan SK yang sedikit terlambat, kami akhirnya tidak jadi dimasukan ke buku putih. Padahal, saya sendiri sudah bakti di sekolah sejak 2003,” kata Nuraini, seorang guru honorer Unicef.

Dirinya memohon kepada Pemkab Aceh Besar dan Pemko Banda Aceh agar sudi memasukan nama mereka ke buku putih pada pendataan katagori kedua yang pendataannya dalam proses dan akan berakhir pada minggu ke empat November 2010.(*/ha/mrd)

KOMENTAR